Pengungsi Yaman Terancam Jalani Ramadan dalam Krisis Pangan

Eskalasi konflik, pengurangan volume bantuan internasional, hingga konflik Rusia-Ukraina yang berdampak kenaikan harga pangan semakin tinggi di Yaman.

kelaparan yaman saat ramadan
Ilustrasi. Yaman akan menghadapi bulan Ramadan dengan krisis pangan. (Dokumen Istimewa)

ACTNews, YAMAN – Yaman masih menghadapi krisis kemanusian yang disebut-sebut sebagai yang terburuk di dunia. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan, 80 persen populasi atau sekitar 30 juta orang di Yaman, hanya mampu bergantung pada bantuan kemanusiaan internasional untuk bertahan hidup.

Mendekati bulan Ramadan, yang akan datang beberapa minggu lagi, krisis di Yaman diperkirakan semakin parah. Baru-baru ini Yaman mendapat banyak tantangan untuk mempertahankan sektor pangan. Mulai dari peningkatan konflik bersenjata, pengurangan volume bantuan pangan dari masyarakat internasional, hingga konflik Rusia-Ukraina yang berdampak terhadap kenaikan harga pangan.

Firdaus Guritno dari tim Global Humanity Network ACT menerangkan, harga roti yang menjadi makanan pokok di Yaman terlalu tinggi dampak terhambatnya impor gandum dari Rusia dan Ukraina. “Membuat harganya naik 30 persen," ujar Firdaus Kamis (17/3/2022).

Saat ini, lebih dari 17,4 juta orang Yaman mengalami rawan pangan. Sebanyak 7,3 juta di antaranya berada dalam tingkat kelaparan darurat. Melihat dampak krisis yang semakin parah, PBB bahkan memperkirakan jumlah ini akan terus bertambah dalam beberapa bulan ke depan.

Sementara itu, Direktur Eksekutif UNICEF Catherine Russell menyoroti dampak negatif krisis yang semakin parah ini pada anak-anak. Krisis di Yaman telah membuat semakin banyak anak yang tidur dalam keadaan lapar.

“Kondisi ini menempatkan mereka pada peningkatan risiko gangguan fisik dan kognitif, bahkan kematian. Kesengsaraan anak-anak di Yaman tidak bisa lagi diabaikan. Nyawa dipertaruhkan.” ujar Russell.

Menurut analisis kerawanan pangan terbaru yang diterbitkan PBB, telah terjadi peningkatan kekurangan gizi akut di antara anak-anak balita di Yaman dan para ibu hamil. Ada 2,2 juta anak di Yaman yang menderita kekurangan gizi akut, dan 500.000 di antaranya memiliki kondisi yang sangat berbahaya. Sementara untuk ibu hamil di Yaman, diperkirakan ada sekitar 1,3 juta yang mengalami kekurangan gizi akut.[]