Penjajahan dan Kemiskinan Membelenggu Petani di Gaza

Di Gaza, para petani dipandang mempunyai peran krusial sebagai kelangsungan dan pertahanan sebuah negara. Namun, belasan tahun sudah petani di Gaza terbelenggu penjajahan dan kemiskinan.

Desember 2018, Aksi Cepat Tanggap menjalankan program untuk membantu petani di Gaza
Ilustrasi. Desember 2018, Aksi Cepat Tanggap menjalankan program untuk membantu petani di Gaza. (ACTNews)

ACTNews, GAZA – Perjuangan tak lepas dari ikhtiar Petani Palestina yang sudah belasan tahun tanah warisan nenek moyangnya diduduki paksa Israel. Tanah pertanian mereka kerap dirusak alat berat. Tanaman mereka dipangkas menjelang panen, bibit baru tanam yang dihancurkan sudah menjadi pemandangan keji yang ‘biasa’. 

Sistem pasar yang tidak berpihak kepada petani Palestina juga menjadi tantangan. Permasalahannya, sistem itu kelak, mau tidak mau, akan diwariskan seorang ayah petani kepada anaknya, beserta tanah yang tidak pernah aman, dan panen yang selalu merugi. 

Seperti yang dirasakan seorang petani zaitun Atef Alhaj Ali, profesi bertani diwariskan oleh ayahnya. Lahan pertaniannya seluas 2.000 meter persegi tidak produktif secara maksimal sejak tahun 2000. Pertaniannya yang subur menghasilkan zaitun dan sayur-sayuran dihancurkan Israel dengan buldozer.

 

“Apa yang terjadi, saya selalu berucap ‘alhamdulillah’. Kami tetap mengurus ladang kami karena sebelumnya di sana tumbuh pohon-pohon zaitun yang subur, yang kemudian dihancurkan Israel dengan bulldozer. Hasbunallah wa ni’mal wakil,” ucap Atef saat ditemui mitra Aksi Cepat Tanggap Februari ini.


Atef Alhaj, petani di Gaza. (ACTNews)

Saat ini Atef membutuhkan bantuan agar dia bisa merebut kembali hak miliknya. Tanpa adanya bantuan modal awal untuk mengolah tanah, sistem irigasi, pembibitan dan pagar pengaman, Atef akan terus mengalami kesulitan finansial. Ia tidak mau perjuangan ayah dan kakeknya dalam mengolah tanah pertanian mereka sia-sia.

”Bahkan walaupun terus diserang penjajah, kami akan terus memperjuangkan tanah kami,  karena tanah inilah alasan kami untuk terus bertahan,” tekadnya.[]