Pentingnya Meluaskan Gagasan Wakaf Produktif di Indonesia

Wakaf yang diperkenalkan dan ditinggalkan semenjak zaman Rasulullah SAW merupakan wakaf produktif yang terus berputar dan bermanfaat untuk ekonomi umat. Tetapi gagasan semacam ini masih kurang mendapatkan tempat di Indonesia. Menurut Marzuki Alie, hal ini dikarenakan umat Islam belum sepemikiran mengenai wakaf.

Pentingnya Meluaskan Gagasan Wakaf Produktif di Indonesia' photo
Salah seorang petani penerima manfaat Sumur Wakaf Pertanian di tengah ladangnya yang subur. (ACTNews)

ACTNews, MALANG – Sejak zaman Rasululah SAW, telah banyak dicontohkan beragam wakaf yang bertahan hingga saat ini. Salah satunya seperti sumur yang diwakafkan Utsman bin Affan 1.400 tahun lalu. Sampai kini, sumur wakaf Utsman bin Affan berkembang menjadi aset berupa kebun kurma dan hotel bintang lima.

Tetapi gagasan semacam ini masih kurang mendapatkan tempat di Indonesia. Menurut Marzuki Alie, hal ini dikarenakan umat Islam belum sepemikiran mengenai wakaf. Yakni gagasan di mana dana wakaf dipergunakan untuk hal-hal yang bisa produktif dan terus berkembang.

“Kalau referensi perjalanan Rasulullah dengan para sahabat, pasti banyak harta-harta wakaf yang ditinggalkan, yang sekarang ini bisa dimanfaatkan untuk umat. Memang sayangnya di Indonesia, kita umat Islam belum memiliki pemikiran yang sama tentang wakaf. Sehingga perkembangan dana wakaf di Indonesia ini relatif lamban dan tidak memenuhi kebutuhan umat dalam rangka membangun ekonomi,” tutur Marzukie ketika ditemui di Kawasan Lowokwaru, Kota Malang pada Ahad (18/10).

Ditambah wakaf menjadi penting karena tidak hanya memperhatikan perputaran ekonomi semata, tetapi juga kesejahteraan para pelakunya. Marzuki membandingkannya dengan dana pinjaman yang diberikan oleh bank-bank konvensional.


Marzuki Alie saat ditemui pada Ahad (18/10) lalu. (ACTNews/Erwin)

“Di dana perbankan, kita dikejar dan dituntut untuk membayar kewajiban dengan bunga. Bunga itu riba. Dan perbankan biasanya tidak pernah peduli bagaimana nasib daripada nasabah. Sebaliknya dengan wakaf, sistem yang dianut adalah sistem syariah. Artinya dananya itu tetap utuh, hasilnya itu yang dibagi antara pengelola wakaf dengan pengusaha yang memang mempergunakan dana wakaf,” ungkapnya.

Sayangnya lagi menurut mantan Ketua DPR-RI periode 2009-2014 ini, besaran dana wakaf belum cukup untuk mendanai kepentingan umat Islam untuk berusaha, khususnya di Indonesia. Oleh karenanya, Marzuki sendiri baru-baru ini ikut berpartisipasi dalam kerja sama dengan Global Wakaf – ACT untuk membantu para petani yang saat ini sedang dirundung kesulitan.

“Saya bersyukur alhamdulillah, kita kemarin sudah menandatangani antara Gema Petani dan Global Wakaf – ACT, untuk pembiayaan menanam padi seluas 500 hektare. Ini sesuatu awal yang luar biasa baiknya. Kami sebagai pengelola Gerakan Masyarakat Pesantren untuk Ketahanan Pangan Indonesia (Gema Petani) yang ingin membangkitkan ekonomi pertanian, khususnya di level pesantren. Kami kesulitan dana, namun begitu ada lembaga yang mengelola wakaf, kami merasa seperti orang mengantuk diberi bantal. Inilah sebetulnya pentingnya dana wakaf itu ditumbuh dan kembangkan.” jelasnya.

Sebab itu, ia ikut mengajak masyarakat Indonesia, khususnya umat muslim, untuk ikut mendermakan hartanya dalam bentuk wakaf. Karena bagaimanapun, dana wakaf inilah yang akan membantu mereka yang membutuhkan dan maslahatnya akan mengalir terus-menerus.


“Saya kira ini imbauan saya, khususnya kepada umat Islam di Indonesia baik yang memang punya kekayaan yang besar, maupun yang pas-pasan. Tidak usah takut untuk bersedekah karena sedekah tidak akan membuat kita miskin. Sedekah itu akan memperkaya diri kita. Karena sesungguhnya, uang yang kita sedekahkan itulah uang kita pada saat nanti kita menghadap Allah,” ajak Marzukie.

Nantinya kerja sama ini tidak hanya akan menyejahterakan para petani, namun hasilnya juga akan menyejahetrakan masyarakat sekitar. Hal ini diungkapkan oleh Ahyudin, Ketua Dewan Pembina Aksi Cepat Tanggap sekaligus Presiden Global Islamic Philanthropy. “Lalu kita punya program wakaf pangan, dari sawah ini nanti padi masuk ke Lumbung Beras Wakaf. Gabah akan digiling, yang hasilnya insyaallah akan didistribusikan kepada masyarakat, termasuk petani jika masih tidak sejahtera,” ungkapnya ditemui di tempat yang sama.

Karena besarnya kekuatan wakaf ini, Ahyudin mengajak masyarakat untuk semakin menggerakkan wakaf secara luas. “Mari gerakkan wakaf. Bebaskan kemiskinan umat. Mari kita perjuangkan kedaulatan pangan umat. Insyaallah, umat berdaulat dengan pangan, maka insyaallah umat mandiri, punya harga diri, tidak bisa didikte dan bebas dari kemiskinan,” ajak Ahyudin. []