Penuh Kendala dalam Berjualan, Semangat Siti Tak Ikut Tumbang

Pascatsunami Selat Sunda pada tahun 2019 lalu menghancurkan usaha Siti Azijah, kini giliran pandemi ikut menghambat pemasukannya.

Siti Azijah yang sebelumnya berjualan oleh-oleh di pantai, kini banting setir dengan menjual mi tiaw dan olahan makanan beku. (ACTNews)

ACTNews, SERANG – Senyum Siti Azijah merekah saat Global Wakaf-ACT menyambangi tempat usahanya di Desa Kamasan, Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang, Banten. Sebab Siti mendapatkan kembali dorongan untuk menjalankan usahanya pada Selasa (22/6/2021) lalu.

Jalan usaha Siti memang penuh tantangan. Beberapa tahun lalu ia merupakan penjual beragam jenis buah tangan di pinggir sebuah pantai di Serang. “Waktu itu saya menjual aneka makanan dan baju-baju pantai, tapi berhenti setelah adanya tsunami Selat Sunda akhir tahun 2019 lalu,” cerita Siti.

Siti terpaksa membanting setir. Sejak tiga tahun yang lalu, ia memutuskan untuk menjual mi tiaw atau mi goreng, yang dilengkapi berbagai olahan makanan beku. Usaha ini berjalan lancar dan pemasukannya sempat stabil kembali.


Namun baru tiga tahun berjualan, pandemi yang kini menghadangnya. “Selama pandemi ini, konsumen dan pembeli ikut berkurang. Dan ini sangat mempengaruhi pemasukan usaha saya yang sekarang sedang saya kembangkan,” ujar Siti. 
Ia berencana menggunakan modal ini untuk menambah bahan baku. Ia juga berharap dengan bantuan modal wakaf, usahanya bisa berjalan lebih lancar serta penuh dengan keberkahan. 

Selain untuk Siti, pada hari itu Wakaf UMKM juga memberikan bantuan modal untuk 9 orang pelaku usaha lain. Harapannya dengan kehadiran program Wakaf UMKM ini dapat terus meluas di Kabupaten Serang, sehingga dapat menjangkau lebih banyak UMKM yang membutuhkan.[]