Penyintas Banjir Kupang: Rumah Hancur Tersapu Air Bah

Marwan, Minto, dan Matteos adalah sejumlah warga penyintas yang kehilangan rumah akibat banjir bandang, Ahad (4/4/2021) lalu. Kini warga yang rumahnya hanyut dan rusak berat banyak mengungsi ke rumah saudara atau bertahan di sisa-sisa rumah yang rusak.

Kondisi lingkungan rumah Minto, penyintas banjir bandang di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, usai diterjang banjir bandang. (ACTNews/Muhamad Ubaidillah).
Kondisi lingkungan rumah Minto, penyintas banjir bandang di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, usai diterjang banjir bandang. (ACTNews/Muhamad Ubaidillah).

ACTNews, KABUPATEN KUPANG — Ranjang-ranjang kayu dijemur tak beraturan di salah satu pekarangan warga di RT 08, RW 04, Kelurahan Takari, Kabupaten Kupang, Rabu (16/4/2021). Sekitar 10 meter dari ranjang, kasur-kasur kusam, dan karpet merah juga diletakkan begitu saja, semuanya masih basah. "Sudah 10 hari itu kasur saya jemur," ujar pemilik kasur, Minto (38), Rabu (14/4/2021).

Minto adalah salah satu penyintas banjir Kupang. Tidak jauh dari deretan jemuran kasur, rumah Minto berada, tanpa atap, hanya tembok samping rumah menjadi sisa pondasi. Ada bekas batas air di tembok, menandakan air bah menerjang rumah itu.

Walau sudah 10 hari, kondisi Kupang saat itu belum benar-benar pulih. Tidak ada bahan makanan atau pun sumber air yang memadai. Keluarga Minto pun harus berbuka puasa dengan nasi dan lauk pauk rebus.

Selain Minto. Marwan, RT 08 RW 04 Kelurahan Takari pun masih meraba-raba kehidupannya 10 hari pasca bencana. Ia terduduk tidak jauh dari rumah Minto, mengamati sekelilingnya. Tangan Marwan memegang golok, tang, dan palu. "Saya lagi cari puing kayu yang bisa digunakan lagi," kata Marwan.

Air meluluhlantakkan rumah dan kios milik keluarga Marwan. Ia pun ingat betul ketika air dengan cepat naik. Rumah dan segala isinya langsung mereka tinggal pergi lari ke bukit di belakang SPBU Takari. Setelah kembali, rumah mereka sudah rata dengan tanah.

Marwan bersama istri, adik, tiga menantu, tiga anak, dan enam cucunya, kini tidur menumpang di sisi rumah Minto yang tak lagi memiliki tembok bagian depan. "Tidurnya berdesakkan, namanya lagi kena musibah," ujar Marwan.  

Sama halnya dengan Marwan, Ketua RT 08, RW 04, Takari, Matteos Bunda juga harus tidur berdesakkan bersama ibu, istri, dan kedua anaknya di bagian rumahnya yang tersisa. "Rumah beta hanyut, tinggal pondasi sa. Ini rumah ibu beta, tinggal satu kamar begini," kata Matteos, menunjukkan rumahnya yang tidak jauh dari rumah Minto.

Kisah Marwan, Minto, dan Matteos adalah sejumlah warga penyintas yang kehilangan rumah akibat banjir bandang, Ahad (4/4/2021) lalu. Kini warga yang rumahnya hanyut dan rusak berat banyak mengungsi ke rumah saudara atau bertahan di sisa-sisa rumah yang rusak. Bencana tersebut mendampak 66 KK terdampak, 18 rumah hanyut, delapan  rusak berat, dan dua orang meninggal.[]