Penyintas Banjir Malaka Konsumsi Jagung yang Terendam Air Banjir

Harta dan stok bahan pangan terendam banjir, penyintas banjir di Malaka mengonsumsi jagung yang juga terendam. "Enggak ada rasa, dikunyah juga sepah, seperti makan sisa-sisa toh,” kata Maria Juniar, salah satu penyintas banjir.

Warga penyintas banjir di Kecamatan Malaka Barat sedang menjemur jagung di pinggir jalan. Simpanan jagung warga yang terendam banjir (ACTNews/Muhamad Ubaidillah)
Warga penyintas banjir di Kecamatan Malaka Barat sedang menjemur jagung di pinggir jalan. Jagung-jagung tersebut merupakan stok makanan yang terendam banjir milik para penyintas(ACTNews/Muhamad Ubaidillah)

ACTNews, MALAKA — Banjir yang terjadi di Kabupaten Malaka awal April lalu merendam rumah-rumah warga, lahan pertanian, dan stok jagung warga, yang merupakan makanan pokok di Malaka. Usai banjir surut, warga mengkonsumsi jagung yang terendam dengan menjemurnya terlebih dulu. 

Salah seorang penyintas banjir di Desa Oan Mane, Kecamatan Malaka Barat, Kabupaten Malaka, Kardus Kehi mengatakan, ia tidak sempat memanen lahan jagung miliknya karena air bah datang begitu cepat. Usai banjir surut, lahan jagung miliknya hancur. Sedikit jagung yang tersisa pun basah. 

"Saya punya jagung rusak, belum dipanen. Banjir surut, saya baru ambil, tapi hancur sudah, hanya sisa 40 pohon, sedikit. Itu saya ambil, dijemur, lalu itu buat makan. Harta tidak ada yang bisa diselamatkan," ujar Kardus, Rabu (14/4/2021).

Penyintas banjir Malaka yang lain, Maria Juniar menceritakan, jagung yang sudah terendam air banjir rasanya hambar dan sepah. Ini berbeda dengan jagung yang tidak terendam air, yang mana terasa gurih dan sedikit manis. Warna jagung yang terendam air juga lebih kusam. 

"Enggak ada rasa Dikunyah juga sepah, seperti makan sisa-sisa toh. Warna (jagung) juga tidak cerah, karena terendam air banjir yang berlumpur. Torang lihat sa (jagung yang dijemur) di pinggir jalan, yang tidak terendam warnanya bagus toh, oranye, cerah," kata Maria. 

Saat banjir terjadi, warga banyak yang menyelamatkan diri dengan naik ke atap rumah karena ketinggiana air mencapai empat meter. Selama menyelamatkan diri, warga harus menahan lapar selama tiga hari dan tidak ada makanan yang berhasil dibawa naik ke atas rumah. 

Kepala Desa Oan Mane, Lukas Leiki menjelaskan, warganya yang menjadi korban banjir hanya bisa mengonsumsi bahan pangan yang tersisa. Selain itu, mereka juga hanya berharap bantuan dari para dermawan. "Mungkin yang masih punya uang mereka beli makanan, tapi yang tidak hanya berharap bantuan saja," ujarnya.[]