Penyintas Bencana Sulbar Butuh Pelayanan Medis

Dua dari empat rumah sakit mengalami kerusakan membawa pengaruh besar pada pelayanan kesehatan yang didapat warga terdampak bencana di Mamuju. Kini, pelayanan medis cukup mendesak, terlebih bencana gempa terjadi di masa pandemi Covid-19.

Tim medis di RSUD Provinsi Sulbar sedang melakukan operasi terhadap pasien di tenda darurat, Sabtu (16/1/2021). Tenda ini digunakan karena ruangan di rumah sakit tidak mampu menampung semua pelayanan kesehatan pascagempa besar melanda pada Jumat dini hari. (ACTNews/Eko Ramdani)

ACTNews, MAMUJU – Suasana di pelataran Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Umum Daerah Sulawesi Barat sejak gempa melanda pada Jumat (15/1/2021) dini hari telah ramai pasien. Mereka mayoritas merupakan korban gempa bumi yang mengalami luka akibat reruntuhan bangunan. Para dokter dan perawat pun memberikan pelayanan terbaik. Sayang, fasilitas rumah sakit tak sepenuhnya mampu menampung pasien karena salah satu bangunan RS tersebut mengalami kerusakan dampak gempa.

Tenda menjadi ruang tunggu dan rawat darurat pasien RSUD Provinsi Sulawesi Barat sebelum mendapatkan pelayanan di dalam bangunan RS. Hingga Senin (18/1/2021) atau hari ke empat pascagempa, masih terdapat pasien yang berada di tenda yang didirikan tepat di depan pintu masuk IGD.

“Ruangan di RSUD saat ini terbatas karena salah satu gedung ada yang mengalami kerusakan. Sehingga pasien harus antre untuk mendapatkan pelayanan di dalam gedung,” jelas Wahyudin dari Bagian Informasi Penanggulangan Bencana RSUD Provinsi Sulawesi Barat, Sabtu (16/1/2021).

Bencana yang juga bertepatan dengan pandemi Covid-19 membuat pelayanan kesehatan mengalami penyesuaian. Seluruh petugas medis menggunakan alat pelindung diri dan pasien harus menjalani tes cepat antigen sebelum mendapatkan pelayanan medis. Bahkan, ruang operasi pun dipisah antara pasien yang reaktif dan non-reaktif hasil tes cepatnya.


Di Mamuju, terdapat empat rumah sakit yang sebelumnya bisa dimanfaatkan masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Namun, gempa M6,2 membuat dua rumah sakit mengalami kerusakan yang cukup parah sehingga tidak dapat digunakan kembali. Rumah sakit yang saat ini masih beroperasi ialah RS Bhayangkara dan RSUD Provinsi Sulawesi Barat, sedangkan RS Mitra Manakkara dan RSUD Mamuju mengalami kerusakan fisik bangunan sehingga untuk sekarang tidak bisa digunakan.

Mendesaknya pelayanan kesehatan

Dokter Helmiyadi  dari tim medis Aksi Cepat Tanggap (ACT) yang bergabung dalam tim dokter yang bertugas di RSUD Provinsi Sulawesi Barat mengatakan, saat ini kebutuhan yang mendesak dalam urusan kesehatan ialah pelayanan kesehatan yang menjangkau titik-titik pengungsian. Pasalnya, masih ada korban luka akibat gempa bumi yang bertahan di tenda pengungsian. Sedangkan pelayanan kesehatan di RS sendiri belum sepenuhnya maksimal karena beberapa keterbatasan, termasuk kurangnya ruangan.

“Di masa bencana yang juga bertepatan dengan pandemi ini membuat tim medis serta pengungsi harus lebih berhati-hati. Dengan adanya gempa, bukan berarti virus Covid-19 bisa menghilang,” jelas Helmi.[]