Penyintas Gempa Sulbar Masih Takut Kembali ke Rumah

Rasa khawatir dan takut gempa susulan hingga menimbulkan tsunami dan merobohkan bangunan rumah yang sudah retak-retak menjadi alasan para penyintas gempa Sulbar bertahan di tenda pengungsian. Di pengungsian pun mereka hidup dalam keadaan serba terbatas.

Suasana tenda pengungsian di Stadion Manakarra, Mamuju yang dihuni oleh lebih dari satu keluarga. (ACTNews/Eko Ramdani)

ACTNews, MAMUJU – Terpal biru yang berdiri di dalam kompleks Stadion Manakarra kini menjadi tempat bernaung bagi Ahmadi dan keluarganya, warga pesisir Mamuju, Sulawesi Barat. Tempat tersebut menjadi hunian Ahmadi dan keluarga sejak gempa M6,2 mengguncang Sulawesi Barat. Hingga masuk hari ke empat pascagempa, Ahmadi belum berani kembali menempati rumahnya. Rasa takut dan khawatir gempa susulan hingga berpotensi menimbulkan tsunami menjadi alasan kuat baginya untuk tetap bertahan di bawah tenda pengungsian.

Di dalam satu tenda, Ahmadi tidak hanya tinggal bersama keluarga saja. Akan tetapi, 11 keluarga lain tinggal di bawah terpal yang tak seberapa luas tersebut. Alas tenda tersebut hanya terpal yang kemudian dilapisi tikar atau matras agar tidak terlalu dingin. Sedangkan sekelilingnya terbuka, sehingga memungkinkan siapa pun untuk melihat ke dalam tenda. Suasana sesak menjadi hal paling bisa dirasakan.

“Di sini (dalam satu tenda) ada total 12 keluarga, kami tinggal memang dalam satu kompleks di pesisir sana. Kami masih takut untuk kembali, apalagi bermalam di rumah,” ungkapnya kepada ACTNews, Senin (18/1/2021).

Di Mamuju, warga terdampak gempa banyak yang mengungsi di Stadion Manakarra, serta terpencar di atas perbukitan. Ketika pagi-siang hari, biasanya warga berani melakukan aktivitas di rumah mereka masih-masing yang banyak berada di wilayah pesisir Mamuju. Namun, ketika sore hingga petang menjelang, warga berbondong-bondong kembali ke tenda pengungsian mereka atau tempat yang lebih tinggi. Mereka mengaku takut jika sewaktu-waktu terjadi gempa susulan yang mampu menimbulkan tsunami.

Selain Ahmadi dan keluarga, rasa takut untuk kembali ke rumah juga dirasakan Yulia, seorang ibu yang mempunyai anak usia 15 bulan di Desa Binangan, Kecamatan Mamuju. Rumah Yulia sendiri berada di atas perbukitan dan cukup jauh dari pantai. Namun, rumahnya mengalami kerusakan walau tidak sampai roboh. Temboknya rentak, sehingga jika tersentuh atau terjadi gempa susulan dikhawatirkan mampu merobohkan bangunan tersebut.

“Kalau hujan ya agak basah karena tempias, makanya dua hari awal kasur untuk anak saya ini basah, ditutupi sarung saja biar enggak terlalu dingin. Enggak ada selimut juga, tapi bertahan seperti ini karena rumah retak-retak, takut ada gempa susulan,” tutur Yulia, Ahad (17/1/2021). Di Desa Binanga sendiri pengungsi mendirikan tendanya tak jauh dari rumah masing-masing, sehingga antar tenda cukup berjarak.

Ahmadi dan Yulia merupakan sedikit dari penyintas bencana yang ACTNews temui dan berharap agar kondisi segera pulih seperti sedia kala. Di hari Selasa (19/1/2021) ini, terhitung warga telah menjadi penyintas bencana selama lima hari. Dan, di hari ke lima ini masih banyak warga yang mengungsi dengan kondisi yang sangat memprihatinkan, ada yang tinggal di pengungsian yang tak layak hingga baru mendapatkan satu kali bantuan, itu pun pangan yang bisa habis dalam waktu cepat.

Aksi Cepat Tanggap (ACT) sendiri sebagai lembaga kemanusiaan yang juga bergerak di bidang penanganan bencana sejak hari gempa terjadi sudah mulai melakukan respons dengan mengirimkan logistik, tim tanggap darurat, hingga pendirian posko di Mamuju dan Majene. Ikhtiar ini melibatkan puluhan relawan Masyarakat Relawan Indonesia dari berbagai kota/kabupaten di Sulawesi serta dukungan dermawan yang terus mengalir.

“Sedekah terbaik masyarakat bakal disalurkan bagi para penyintas bencana di Sulbar,” jelas Lukman Solehudin, Koordinator Posko Induk Kemanusiaan ACT di Sulawesi Barat.[]