Penyintas Gempa Sulbar Sangat Butuhkan Hunian

Menjelang dua pekan pascagempa, kondisi di Sulawesi Barat berangsur kondusif. Akan tetapi, hal ini tak seiring dengan kondisi para penyintas. Mereka masih bertahan di pengungsian. Urusan pangan bergantung pada bantuan kemanusiaan dan berharap memiliki hunian nyaman karena rumah mengalami kerusakan.

Penyintas Gempa Sulbar Sangat Butuhkan Hunian' photo
Sebuah rumah di Dusun Popanga, desa Botteng Utara, Simboro, Kabupaten Mamuju yang mengalami kerusakan akibat gempa M6,2 pada Jumat (15/1/2021) lalu. Hingga sepekan pascagempa, rumah tersebut masih dibiarkan oleh pemilik yang masih mengungsi. (ACTNews/Eko Ramdani)

ACTNews, MAMUJU – Sambil menggendong anak ketiganya yang masih usia 14 bulan, Baharia (38), berdiri di depan tenda pengungsian yang ada di lapangan Dusun Sendana, Desa Botteng Utara, Kecamatan Simboro, Mamuju. Hari itu, Ahad (24/1/2021), ia keluar tenda untuk mencari hawa yang lebih sejuk dan dingin dibanding di dalam tenda terpalnya. Sang anak yang bernama Kiki Larasati mengenakan baju tanpa lengan agar tidak terlalu merasakan hawa panas dari teriknya matahari. Bermodal sobekan kardus, Baharia mengipasi anak terkecilnya itu agar tidak menangis karena kepanasan.

Baharia, suami dan ketiga anaknya merupakan penyintas gempa Sulawesi Barat. Rumahnya mengalami kerusakan parah, sehingga tidak bisa ditinggali. Selain rusak dan belum memiliki modal untuk merenovasi, rasa takut pada gempa susulan menjadi alasan bagi Baharia dan keluarga tetap bertahan di pengungsian. Tak ada barang mewah di tempat darurat tersebut, akan tetapi, bagi Baharia dan keluarga, pengungsian saat ini jadi tempat paling aman.

Sebuah papan yang sedianya digunakan untuk pintu rumah kini menjadi alas tenda tempat Baharia dan keluarga mengungsi. Papan tersebut menjadi sekat dengan tanah, karena di atas papan tersebut menjadi tempat tidur bagi dirinya dan sang suami. Sedangkan ketiga anaknya tidur di atas kasur yang posisinya lebih tinggi untuk menghindari rasa dingin ketika malam.

“Kalau enggak dikasih alas (papan) seperti itu bisa basah setiap hujan. Kasur ini pun dikasih alas biar enggak meresap airnya. Anak-anak di sini (kasur) kalau tidur, kadang sama saya juga, bapaknya tidur di atas papan situ. Ya beginilah adanya,” tutur Baharia, Ahad (24/1/2021).

Di dalam tenda yang hanya ada satu ruangan itu menjadi tempat seluruh kegiatan rumah tangga Baharia dan keluarganya. Mulai dari tidur, memasak, menyimpan bahan pangan, dan lain-lain. Tenda tersebut juga tak seluruhnya tertutup, sehingga semua orang bisa melihat ke dalam tenda tanpa perlu masuk. Akan tetapi, untuk sedikit menghalau udara dingin, Baharia mengakali dengan menutup sisi-sisi tenda dengan terpal dan karpet, serta atapnya dari nipah yang dilapisi terpal agar tidak bocor kala hujan.

Ketika ditanya akan berapa lama berada di pengungsian, Baharia tak bisa memastikan. Rumahnya mengalami kerusakan parah dan rasa takut yang begitu dalam menjadi alasan kuat baginya dan keluarga tetap berada di pengungsian. Selain itu, Baharia pun masih bingung bagaimana untuk memenuhi urusan pangannya jika tidak ada lagi bantuan kemanusiaan seiring dengan kondisifnya kondisi di Sulawesi Barat.

“Inginnya pasti pulang ke rumah, di pengungsian tidak nyaman, kasihan anak-anak saya. Tapi rumah rusak berat dan belum ada modal bangun ulang,” ungkap Baharia.[]