Penyintas Tsunami Selat Sunda Masih Berjuang Pulihkan Ekonomi

Setelah tsunami Selat Sunda menyapu rumah-rumah warga di pesisir pantai Kecamatan Sumur pada akhir tahun 2018 lalu, sebagian warga masih kehilangan rumah dan pekerjaannya hingga hari ini.

Penyintas Tsunami Selat Sunda Masih Berjuang Pulihkan Ekonomi' photo
Anak-anak di hunian sementara sedang bermain bersama para relawan dari ACT dan Pusat pengajian Al Zikri. (ACTNews/Reza Mardhani)

ACTNews, PANDEGLANG - Yeni tersenyum memerhatikan anak-anak di pusat hunian sementara (huntara) berkumpul. Anak-anak begitu senang menyanyikan lagu "Kepala Pundak Lutut dan Kaki" yang dipandu oleh relawan-relawan dari Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersama dengan Pusat Pengajian Al Zikri, lembaga dari Malaysia pada Ahad (27/10) lalu.

Beberapa bulan ini mereka jauh dari rumah mereka yang sebelumnya di pinggir pantai dan kini mengungsi di huntara di sebuah perbukitan di Desa Sumberjaya, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten. Yeni mengucapkan terima kasih atas bantuan yang telah diberikan ACT bersama dengan Al Zikri hari itu.

“Kita berterima kasih atas bantuan paket pangan dan pendidikannya, apalagi anak-anak bisa terhibur juga dengan hadirnya ACT dan Al Zikri ini. Kita ibaratnya di sini jauh dari kampung dan dari mana-mana. Semoga lelahnya menjadi berkah, terutama yang jauh-jauh datang dari Malaysia,” ujar Yeni.

Yeni mengungkapkan setelah tsunami menerjang pinggir pantai di Kecamatan Sumur pada akhir 2018 lalu, ia kehilangan rumah dan sampai saat ini belum dapat membangunnya kembali. Selain Yeni, ada juga Durja yang selain kehilangan rumah, juga kehilangan pekerjaannya.


Ratusan keluarga menjadi penerima manfaat bantuan paket pangan dan pendidikan dari ACT bersama dengan Pusat pengajian Al Zikri. (ACTNews/Reza Mardhani)

“Pekerjaan saya aslinya nelayan, tapi sekarang perahunya sudah hancur akibat tsunami. Sudah hilang mata pencaharian saya sekarang karena perahunya tidak ada. Jadi sekarang saya melakukan apa saja yang bisa saya lakukan di rumah,” kara Durja.

Durja kemudian memperlihatkan beberapa hal yang dilakukannya setelah kehilangan pekerjaan. Salah satunya adalah membuat kursi-kursi atau peralatan rumah lainnya dari bambu dan kayu. Ia kemudian memajangnya di teras depan huntaranya.

“Saya taruh saja di sini, nanti kalau ada yang mau mereka juga tanya sendiri berapa harganya. Paling saya hargai sekitar Rp 50 ribu. Tapi ini iseng-iseng saja karena memang tidak ada yang bisa dikerjakan lagi,” kata Durja sembari tertawa.

Rumah Durja kini sama sekali belum dibangun kembali. Ia tidak punya biaya untuk memodali kembali rumah dan usahanya yang hancur. Pekerjaan serabutan yang dia lakoni selama ini hanya bisa menutupi biaya hidup di huntara. Ia hanya bergantung pada pekerjaannya atau bantuan yang diberikan kepada warga.

“Terima kasih dengan adanya bantuan pangan dari ACT dan Al Zikri ini. Terlihat juga warga lain sangat senang dengan adanya bantuan ini. Memang kehidupan di huntara ini sangat sulit semenjak tsunami. Terutama kalau kehilangan mata pencaharian juga,” ungkap Durja.

Untuk membantu para penyintas tsunami di huntara, ACT pada hari itu menurunkan ratusan paket pangan beserta paket pendidikan untuk warga. Ratusan paket tersebut adalah bentuk syukuran karena Sumur Wakaf Keluarga akan segera dibangun di sana untuk masing-masing warga.

“Donasi dan syukuran ini adalah bentuk solidaritas kepada saudara-saudara kita yang saat ini sedang mengalami kekeringan selama beberapa bulan ke belakang. Sebagai tambahan, Pusat Pengajian Al Zikri juga mendonasikan ratusan paket pendidikan kepada anak-anak yang tinggal di huntara,” ujar Mohammad Giri Farras Syah dari tim ACT. Farras mengatakan Global Wakaf-ACT akan mengerjakannya sesegera mungkin. Nantinya satu Sumur Wakaf Keluarga akan memenuhi kebutuhan satu keluarga yang masih tinggal di huntara. []

Bagikan