Perahu Cepat Ambulans, Kebutuhan Mendesak Warga Pulau Tunda

Ada lebih dari dua ribu jiwa di Pulau Tunda yang nyawanya bisa hilang karena keterlambatan penanganan akibat jauhnya jarak dari rumah sakit di Pulau Jawa. Perahu cepat ambulans pun menjadi kebutuhan mereka yang mendesak saat ini.

Perahu Cepat Ambulans, Kebutuhan Mendesak Warga Pulau Tunda' photo
Deretan perahu milik nelayan Pulau Tunda, Kamis (29/10). Selain untuk mencari ikan transportasi ke Jawa, kapal ini juga menjadi harapan bagi warga yang sakit untuk bisa diantar ke rumah sakit terdekat di Serang. Hal ini mengingat tidak adanya perahu cepat ambulans. (ACTNews/Eko Ramdani)

ACTNews, SERANG Memiliki luas daratan sekitar 300 hektare, Pulau Tunda yang ada di laut utara Jawa menjadi tempat bagi sekira 460 keluarga atau 2 ribu jiwa. Nelayan dan petani di kebun menjadi pekerjaan mayoritas warga. Sebagian ada yang berdagang serta sebagian lainnya merupakan pegawai kantor Desa Wargasara. Mereka tinggal di pulau yang pantainya dipenuhi oleh pasir putih dengan karang hidup di dasar lautnya.

Sayang, keindahan pulau yang masuk administrasi Kecamatan Tirtayasa itu belum memiliki fasilitas umum yang mampu menunjang keberlangsungan hidup warga. Salah satu yang penting ialah fasilitas kesehatan. Sekitar 2 ribu jiwa di Pulau Tunda menggantungkan layanan kesehatan dari rumah bersalin yang juga menjadi puskesmas pembantu (pustu) dengan satu orang bidan yang bertugas di sana. Tidak tersedia toko obat juga di Pulau Tunda. Sehingga, jika dalam keadaan kesehatan sangat mendesak, warga harus berlayar ke Jawa dengan titik terdekat Kabupaten Serang untuk berobat.

“Dari di sini (Pulau Tunda) ke Serang sekitar dua jam perjalanan pakai kapal nelayan,” jelas salah satu warga Pulau Tunda Firman Kiki yang mendampingi tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) selama di Pulau Tunda, Kamis (29/10).

Waktu tempuh yang disebut Firman adalah lama perjalanan ketika cuaca di laut sedang baik dan menggunakan kapal nelayan tradisional yang menggunakan mesin bekas truk. Sayang, hal itu tak selalu terjadi. Di musim hujan, badai lebih sering datang. Tiap sore cuaca di lautan sangat berbahaya. Hal itu jugalah yang kemudian dirasakan oleh tim ACT ketika hendak meninggalkan Pulau Tunda pada Rabu sore. Cuaca yang tak memungkinkan membuat tim ACT bertahan hingga Kamis (29/10) pagi.


Ruangan bersalin di Pulau Tunda ini yang juga menjadi puskesmas pembantu. Fasilitas kesehatan ini adalah satu-satunya yang tersedia untuk warga dan pengunjung yang datang. Jika dalam keadaan darurat dan butuh rujukan, rumah sakit terdekat ada di Pulau Jawa dengan jarak tempuh tercepat menggunakan kapal nelayan selama dua jam. (ACTNews/Eko Ramdani)

Pulau Tunda sendiri belum memiki kapal cepat yang bisa mengantar warga setempat jika terjadi hal buruk, seperti kecelakaan atau sakit keras. Yang sering terjadi, Firman menuturkan, pernah salah satu warga mengalami kecelakaan sepeda motor dengan benturan di kepala yang cukup parah. Pustu tak dapat mengobati dan harus dibawa ke rumah sakit di Serang. Sayang, perjalanan yang jauh dan cukup lama menggunakan kapal nelayan membuat korban tak bisa diselamatkan.

“Kalau meninggal di jalan, pasti balik lagi ke sini (Pulau Tunda), dan langsung diurus jenazahnya. Itu sudah biasa,” ungkap Firman yang merupakan salah satu warga Pulau Tunda yang juga berkesempatan mengenyam pendidikan hingga S2 di salah satu kampus negeri di Serang, dan setelah lulus pendidikan, Firman kembali lagi ke Pulau Tunda untuk membantu memajukan tanah kelahirannya itu.

Masih minimnya fasilitas kesehatan serta perahu cepat ambulans yang bisa membawa pasien ke rumah sakit di Serang menjadi kendala besar yang dirasakan warga Pulau Tunda. Warga pun sangat berharap setidaknya memiliki perahu cepat ambulans. Dari taksiran harga, biaya yang harus dikeluarkan untuk membuat perahu cepat ini sebesar Rp150 juta. “Beberapa waktu lalu kami sudah menanyakan harga pembuatan perahu cepat ke pengrajin perahu. Sekitar 150 juta (rupiah) biayanya,” jelas Sukma Jayalaksana dari Tim Program ACT Banten, Kamis (29/10).

ACT Banten saat ini tengah menyiapkan penggalangan dana untuk wakaf perahu cepat ambulans Pulau Tunda. Bagi dermawan yang ingin bersedekah pun, ajak Sukma, bisa menghubungi atau datang langsung ke kantor Cabang ACT Banten di Kota Serang. Harapannya, satu per satu kendala warga di Pulau Tunda bisa teratas buah dari kedermawanan masyarakat.

“Warga Pulau Tunda sangat menanti uluran tangan masyarakat, khususnya perahu cepat ambulans. Ada dua ribu lebih jiwa yang akan bergantung nyawanya pada kendaraan hasil kedermawanan masyarakat ini,” ungkap Sukma.[]