Peran Perempuan dalam Lintasan Sejarah Wakaf

Kaum perempuan punya peran besar dalam pengembangan wakaf di berbagai zaman.

wakaf zubaidah
Ibu Khalifah Al-Amin pada masa Dinasti Abbasiyah membangun kolam, sumur, waduk di Mekkah, dan menggali mata air untuk minum para jemaah haji sepanjang dua belas mil dari Mekah ke Arafat. (scta.gov.sa)

ACTNews, JAKARTA – Kaum perempuan punya sejarahnya sendiri dalam pengembangan wakaf di negeri Islam. Banyak peran wanita terdahulu yang berpengaruh dalam pengelolaan wakaf di suatu negeri.

Wakaf yang dilakukan oleh kaum perempuan pada awal Islam bersifat terbatas, yakni hanya penyediaan perumahan bagi yang membutuhkan atau perhiasan untuk pembiayaan sosial. Tetapi, pengembangan wakaf kemudian telah menunjukkan indikasi kemajuan sejalan dengan bertambahnya peran perempuan di dalam masyarakat Islam. Peran wanita dalam wakaf salah satunya dimulai oleh Fatimah az-Zahra, putri bungsu Rasulullah yang pernah menjadi nazir wakaf sampai akhir hayat.

Dinasti Abbasiyah

Pada zaman Dinasti Abbasiyah, gerakan wakaf perempuan lebih maju dari sebelumnya. Sebut saja Ibunda Khalifah al-Amin (193-198 H/809-813 M), bernama Zubaidah (w. 216/831 M), digambarkan sebagai dermawan yang melakukan banyak kegiatan sosial. Ia membangun kolam, sumur, waduk di Mekkah, dan menggali mata air al-Masyasy di utara al-Hijaz.

Saluran air bersih ini kemudian digunakan untuk minum para jemaah haji sepanjang dua belas mil dari Mekah ke Arafat. Ada juga beberapa kolam yang menampung air dan dialirkan keliling Jabal Rahmah, mengelilingi Pegunungan Muzdalifah, dan kembali ke Mekkah.

Air ini bahkan dapat dinikmati hewan-hewan di sekitar sana. Biaya pembangunannya dahulu senilai 1,7 juta keping emas, dan jemaah umrah dan haji hingga kini dapat melihat peninggalan saluran air yang dibangun Sayyidah Zubaidah yang menandakan kejayaan peradaban Islam.


Zubaidah juga telah membeli kebun-kebun di sekitar Hunain dan mewakafkannya. Ia mengkhususkan hasil pendapatannya untuk menyediakan air minum bagi para peziarah dan jemaah haji. Ia mewakafkan banyak bangunan dan kebun, sehingga penghasilannya di masa kini bisa mencapai  lebih dari 1,6 juta per tahunnya. Dari dana inilah disiapkan biaya operasional dan pemeliharaan sarana mata air Zubaidah beserta fasilitas lainnya.

Dinasti Fatimiyah

Di era Dinasti Fatimiyah, perempuan telah menikmati kesadaran dan pemahaman untuk meningkatkan gerakan berwakaf. Kaum perempuan berkontribusi bersama dengan kaum pria dalam mendirikan perpustakaan serta pusat kajian ilmiah. Secara khusus di zaman ini banyak dari kaum perempuan yang mewakafkan masjid yang memiliki peran utama penguatan bidang pendidikan dan kajian ilmiah. 

Contohnya sebuah masjid dan fasilitas yang luas dibangun oleh Taghreed, istri dan ibu Khalifah al-Aziz Billah (975-996 M). Masjid al-Qarafah namanya, merupakan masjid kedua didirikan oleh Dinasti Fatimiyah di Mesir setelah masjid Al-Azhar. Istri Khalifah al-Amir bin Ahkamillah pada tahun 1132 Masehi juga membangun masjid yang disebut pada prasastinya “Ini adalah makam Sayidah Ruqayyah putri Khalifah Ali ibn Abi Thalib”.

Selain itu perempuan muslimah dari kawasan al-Maghrib telah memberikan kontribusi di dalam membangun peradaban besar Islam di Afrika Utara, yakni pendirian pusat penghafalan Al-Qur'an dan pengembangan ilmu pengetahuan dari harta warisan Fatimah al-Fahriyyah. Ialah peletak dasar bagi Universitas al-Qarawiyyin di Kota Fez. Keikhlasannya di dalam pengelolaan lembaga pendidikan dengan cara berwakaf menjadikan lembaga besar di kemudian hari.

Dinasti Mamluk

Perkembangan pesat gerakan wakaf berada di zaman Dinasti Mamluk (1258-1517 M) di mana kaum perempuan dari golongan Mamluk memiliki harta berlimpah dan mereka gemar berinfak fi sabilillah. Bahkan mereka mengelola kekayaan mereka sendiri. Di antara penyebab kemajuan di zaman ini adalah bahwa Dinasti Mamluk telah melanjutkan kemajuan ilmu pengetahuan pada era-era sebelumnya.


Dinasti Utsmaniyah

Kalangan perempuan Utsmaniyah juga menunjukkan kontribusi luar biasa di ruang publik dengan wakaf. Hal ini terlihat dari fasilitas-fasilitas umum di Konstantinopel (Istanbul) yang dibangun dari dana wakaf para perempuan setempat. Di antaranya adalah proyek-proyek imaret (pengelola wakaf) berupa hamam atau pemandian umum. Menurut Frial R Supratman dalam artikelnya, “Sistem Wakaf dan Kehidupan Sosial Ekonomi di Istanbul pada Masa Usmani Klasik” (2019), penggagasnya adalah tokoh-tokoh wanita Utsmaniyah, semisal Hurrem Sultan dan Mihrimah Sultan.

Dengan berwakaf untuk mendirikan pemandian umum khusus wanita, para tokoh perempuan itu menghadirkan ruang publik spesial. Di dalamnya, kaum hawa dapat bersosialisasi dengan sesamanya tanpa merasa kehilangan haknya atas privasi.

Di tiap hamam, mereka bisa dengan bebas membicarakan berbagai masalah; mulai dari politik hingga mengobrol untuk mencarikan jodoh bagi anak masing-masing. Khususnya di Istanbul, rancang bangun sejumlah hamam yang populer dibuat oleh arsitek kenamaan, Mimar Sinan.

Ada beberapa hamam hasil rancangannya di Istanbul, Turki. Salah satunya adalah hamam di dekat Masjid Findikli. Itu dibangun dari wakaf yang dikeluarkan Molla Çellebi, seorang pensiunan tentara. Tempat-tempat lainnya adalah hamam di Yenikapi, wakaf dari Odabaşı Behrus Aga; hamam di Edirnekapi, wakaf dari Mihrimah Sultan; serta hamam di Yenikapi (sekarang daerah Merkezefendi), wakaf dari Shah Sultan. []