Perawatan Ibu dan Anak di Kamp Pengungsian Rohingya Minim

Lebih dari 100 bayi dilahirkan setiap hari di kamp-kamp pengungsi Rohingya di Bangladesh tenggara, namun fasilitas terkait kelahiran masih amat minim.

Perawatan Ibu dan Anak di Kamp Pengungsian Rohingya Minim' photo

ACTNews, COX’S BAZAR Setiap pengungsi ibu Rohingya menginginkan yang terbaik bagi anaknya, termasuk perempuan-perempuan yang harus melahirkan di tengah kehidupan kamp pengungsian yang serba terbatas itu. Al Jazeera melaporkan, kamp-kamp pengungsian Rohingya masih amat kekurangan perlengkapan terkait perawatan kelahiran.

Perawatan kelahiran itu mencakup kebutuhan medis ibu yang baru saja melahirkan dan bayi yang baru dilahirkan, sampai urusan administrasi. Kasus dasar yang ditemui, bayi-bayi Rohingya lahir tanpa adanya akta lahir karena kewarganegaraan yang tidak jelas. Fasilitas kesehatan di sejumlah klinik darurat pun minim. Menurut laporan Al Jazeera suhu di udara di salah satu ruang rawat bagi ibu melahirkan sangat lembab, kipas angin yang ada hanya membantu sedikit menyegarkan udara, sedangkan bayi-bayi terus menangis.

“Tantangan utama kami adalah mereka tidak datang ke kami sejak awal kehamilan. Setelah mereka merasa ada sejumlah komplikasi, baru mereka datang,” terang spesialis kandungan di klinik kamp pengungsian Rohingya Bangladesh, dr. Akash Mazumdar kepada Al Jazeera, dirilis Rabu (28/8) lalu.

Petugas kesehatan di kamp pengungsi Rohingya pun berjuang untuk menyediakan perawatan yang tepat untuk bayi yang lahir dari pengungsi perempuan Rohingya di Bangladesh. Tidak jarang, para pengungsi perempuan Rohingya lebih memilih melahirkan di gubuk bambu mereka dengan bantuan bidan tradisional Rohingya.


Fenomena itu menunjukkan betapa pengungsi Rohingya masih hidup jauh dari standar layak. Di situlah ratusan ribu orang Rohingya mencari perlindungan, sejak melarikan diri dari kekerasan di Myanmar dalam dua tahun terakhir.

“Mereka hidup dalam lingkungan yang tidak sehat. Mereka pun enggan melakukan pemeriksaan kesehatan sekalipun kami memaksa mereka. Itu sebabnya, infeksi sangat mudah menyebar dan memicu sejumlah komplikasi penyakit, Para ibu menderita eklampsia, hipertensi induksi, dan diabetes,” terang dr. Farzana Islam kepada Al Jazeera. Ia merupakan dokter sukarelawan yang bertugas di kamp pengungsian Rohingya di Bangladesh.

Meningkatnya risiko kesehatan seiring bertambahnya populasi pengungsi Rohingya menjadi keprihatinan dunia. []

Bagikan