Perbaikan Ekonomi untuk Keluarga Almarhum Husnan

Nur Aisya kini menjadi tulang punggu keluarga. Husnan, suaminya, meninggal dunia awal Juli ini akibat pembekuan darah di otak.

ACTNews, BATAM Jauh merantau dari Lengkok, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat sejak beberapa tahun silam, Husnan (41) dan istrinya, Nur Aisya, dan kedua anaknya harus merasakan tantangan hidup. Mereka merantau ke kota industri, Batam, di Kepulauan Riau. Mereka hanya mampu menyewa indekos untuk sekeluarga dengan pendapatan yang pas-pasan.

Husnan bekerja sebagai buruh serabutan di Batam. Penghasilannya tak menentu, berkisar Rp 90-Rp 100 ribu per hari. Jumlah ini hanya mampu menutupi keperluan sehari-hari keluarganya. Sementara itu, Nur Aisya tidak bekerja. Ia mengurus dua orang anak yang masih usia sekolah.

Keluarga Husnan lantas kembali diuji. Pada pekan keempat Ramadan lalu, tepatnya Senin (27/5), Husnan yang sebelumnya tanpa keluhan sakit, sulit dibangunkan untuk santap sahur. Nur Aisya bertutur, suaminya tak ada respons dan terus terlelap hingga pukul 07.00 pagi. Husnan dinyatakan mengalami pembekuan darah di otak, dan dinyatakan meninggal dunia pada Senin (1/7) lalu.

Kini Nur Aisyah masih dirundung duka atas kepergian suaminya. Tak ada lagi sosok pencari nafkah, sedangkan dua anak mereka masih di usia sekolah. Kamis (4/7) kemarin, tim Mobile Social Rescue (MSR)-ACT Kepri berkunjung ke tempat tinggal keluarga Husnan.

Intan Komalasari dari tim MSR-ACT Kepri mengatakan, kunjungan timnya adalah untuk memberikan santunan kepada keluarga almarhum Husnan. “Pak Husnan merupakan salah satu penerima manfaat pendampingan medis MSR-ACT Kepri sejak pertengahan Juni lalu. Kami juga sedang melakukan penggalangan dana untuk pengobatan Pak Husnan melalui Kitabisa, tapi takdir berkata lain,” jelasnya.


Hingga kini, penggalangan dana secara daring masih berjalan melalui www.kitabisa.com/bantustrokehusnan. Nantinya, dana yang terkumpul akan dimanfaatkan untuk perbaikan ekonomi keluarga almarhum Husnan. Saat ini, tim MSR-ACT masih menghilangkan trauma keluarga Husnan yang masih terpukul atas kepergian kepala keluarganya itu.

Husnan mulai nampak sakit pada akhir Mei lalu. Nur Aisya menuturkan, suami tak ada respons saat dibangunkan santap sahur. “Saat dibangunkan tak ada respons hingga pagi, saya panik, meminta pertolongan tetangga,” kenang Nur Aisya kepada tim MSR-ACT Kepri, Kamis (4/7).

Hasil pemeriksaan medis suami Nur Aisya itu mengalami pembekuan darah di otak. Ia harus segera menjalani operasi dengan biaya Rp 50 juta agar aliran oksigen ke otak Husnan dapat berjalan normal kembali. Biaya menjadi kendala, sedangkan keluarga mereka tak memiliki jaminan kesehatan dari pemerintah.

Jumat (31/5), laki-laki yang tinggal di Tiban Kampung, Kecamatan Sekupang, Batam, Kepulauan Riau ini menjalani operasi tahap pertama. Biaya operasi dijanjikan oleh salah satu yayasan, tapi dalam praktiknya, yayasan tak menanggung pengobatan seratus persen. “Kami berhutang ke rumah sakit lebih dari 28 juta rupiah,” ungkap Nur Aisya.

Pascaoperasi, Husnan masih terbaring lemah dan tidak bisa diajak bicara. Dokter meminta keluarga agar tetap membiarkan Husnan dirawat di rumah sakit. Namun BPJS yang belum aktif membuat biaya pengobatan menjadi mahal, terlebih ekonomi keluarga masih prasejahtera.

Dibantu ketua RT setempat dan ACT, BPJS keluarga Husnan dapat diaktifkan di Batam. Pengobatan Husnan berlanjut, namun takdir berkata lain. Senin (1/7) pagi Husnan meninggal dunia. Walau begitu, tim MSR-ACT masih terus melakukan pendampingan terhadap keluarga Husnan hingga sekarang.[]