Perjuangan Amir Mengajar Mengaji Selama Setengah Abad

Selama 50 tahun, Amir telah mengajar sekitar 50 anak dan belasan ibu pada sore hari dan magrib. Pengabdian ini dia lakukan mendapat gaji, melainkan hanya menerima uang zakat fitrah selama satu tahun sekali.

Perjuangan Amir Mengajar Mengaji Selama Setengah Abad' photo
Amir ditemui di kediamannya Desa Karangrejo, Kecamatan Karanggayam, Kabupaten Kebumen. (ACTNews/Reza Mardhani)

ACTNews, KEBUMEN - Menginjak usia 73 tahun, Amir Mutasir masih belum jenuh dengan pengabdiannya sebagai guru. Setengah abad sudah ia melalui hampir setiap sorenya dengan mengajari anak-anak mengaji di di Masjid At Taqwa Desa Karangrejo, Kecamatan Karanggayam, Kabupaten Kebumen.

Dibantu seorang ustaz lainnya yang bernama Pangilam, keduanya mengajar sekitar 50 anak saat sore hari dan terkadang belasan ibu setelah magrib. Amir tak memungut biaya sama sekali untuk pengajaran yang ia berikan kepada para santri.

“Tidak saya pungut bayaran sama sekali dari para santri. Nanti malah mereka mundur, kasihan. Kalau untuk uang biasanya ketika ada acara, terima berkat atau amplop, itu menjadi rezeki. Yang rutin hanya zakat fitrah dari pantia masjid setiap Lebaran semenjak tahun 1992. Itu pun tidak pasti, seikhlasnya panitia saja memberikan zakat,” ujar Amin kepada tim ACTNews, Senin (23/12) lalu.

Padahal dia mengaku perjuangan untuk mengajar di masa dahulu terbilang sulit. Ia menceritakan paling sulit ketika bertemu orang-orang di era 1965-1966. Kala itu banyak orang-orang yang meninggalkan agama mereka.

Amir sedang mengajar salah satu muridnya. (ACTNews/Reza Mardhani)

“Kalau kita berdakwah di era 65-66, itu mereka akan bilang, ‘Tuhan itu tidak ada, adanya cuma di mulut saja. Itu juga kalau kamu sebut baru dia dapat dikatakan ada di mulut kamu’,” tiru Amir. Tetapi ia tidak menyerah dan terus berjuang hingga sebuah masjid berdiri dan menjadi penopang dakwahnya di tahun 1973.

Dahulu, selain mengajar Amir juga mencari nafkah dengan pergi ke sawah garapannya. Sekarang waktunya lebih leluasa ia abdikan untuk masjid lantaran sawahnya kini diurus oleh buruh tani setempat, mengingat ia juga sudah uzur. Selain itu, ada kiriman sesekali dari anak yang tinggal di Jakarta.

“Selain itu saya juga mengandalkan donatur seperti dari program Sahabat Guru Indonesia kemarin. Karena kata ulama itu siapa yang memperdalam agama, rezeki akan ikut. (Saya percaya) Allah Maha Kaya,” tegas Amir.


Amir dan 74 guru lainnya di Kebumen menerima apresiasi dari Global Zakat – Aksi Cepat Tanggap (ACT) melalui program Sahabat Guru Indonesia. Bantuan biaya hidup untuk menopang kebutuhan hidup Amir merupakan amanah dari para dermawan seluruh Indonesia melalui Global Zakat-ACT.

“Meski untuk sementara bantuan ini hanya diberikan sekali, kita tentu berikhtiar agar berkelanjutan. Sehingga diharapkan bisa ikut menambah motivasi kerja para guru honorer dan guru ngaji untuk terus memberikan inspirasi bagi anak bangsa," terang Apiko Joko Mulyono, Penanggung Jawab Pelaksana Program Sahabat Guru Indonesia.

Amir pun berterima kasih kepada para dermawan yang telah memperhatikan nasib guru-guru mengaji sepertinya. Ia juga berharap semoga semangat yang sama akan dibawa penerus-penerusnya untuk mengembangkan agama Islam kelak.

“Mungkin saya masih bimbang, nanti kalau saya mati siapa yang akan ganti? Maunya saya ada penggantinya nanti. Karena sampai sekarang belum ada bayangan yang tekun untuk masjid ini,” ujar Amir. []


Bagikan