Perjuangan Cahyo: Gaji Kecil hingga Kerja Sampingan Jadi Pelatih Sepak Bola

“Gaji (guru honorer) memang kecil, namun kebaikannya itu besar,” ujar Cahyo guru honorer di Bantul yang bekerja sampingan menjadi pelatih sepak bola.

guru honorer cahyo
Cahyo saat menjelaskan pelajaran di kelas. (ACTNews)

ACTNews, BANTUL – Cahyo Adi Priatno (29) guru honorer sebuah sekolah di Desa Timbulharjo, Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul harus mencari pemasukan tambahan untuk membiayai kebutuhan hidup. Cahyo merasa tidak cukup jika hanya mengandalkan gaji mengajar. 

Dua kali dalam sepekan, Cahyo melatih sepak bola. Hari melatih tidak menentu, bergantung pada jadwal pertandingan siswa. Sehingga Cahyo harus selalu siap jika diminta untuk datang melatih. 

Waktu berlatih setelah asar, harinya berubah-ubah. Kalau mau pertandingan Kamis, maka sehari sebelumnya atau Rabu pada latihan, jadi saya dipanggil. Latihan pasti dan rutin itu hanya hari Ahad pagi,” kata Cahyo saat ditemui tim ACT Bantul Oktober lalu di sekolah tempatnya mengajar.

Cahyo melanjutkan, ia menjadi pelatih sepak bola karena sesuai dengan pelajaran Pendidikan Jasmani dan Kesehatan yang diampu. Bayaran menjadi pelatih Rp70 ribu dua kali pertemuan dan dibayar per pekan. 

“Gaji sebagai guru honorer Rp300 ribu per bulan. Jadi, saya cari tambahan buat beli bensin dan makan,” kata pria yang sudah menjadi guru selama enam tahun itu. 

Cahyo melanjutkan, meski gaji guru honorer di Bantul masih jauh dari layak, namun bagi Cahyo dunia pendidikan memberikan banyak kebaikan untuk hidupnya. Seperti bisa mengenal ragam karakteristik siswa, guru, juga pengetahuan yang bertambah. 

“Gaji (guru honorer) memang kecil, tetapi kebaikannya itu besar. Dengan mengajar, saya bisa mendapatkan kesempatan untuk meningkatkan kemampuan, memahami karakter siswa dan cara mengatasinya,” ujar Cahyo. 

Untuk mendukung perjuangan Cahyo, Global Zakat-ACT memberikan bantuan biaya hidup. Selain Cahyo, di waktu bersamaan tiga guru honorer di Bantul juga mendapatkan bantuan serupa.[]