Perjuangan Dakwah Ustaz Ahmad Talan di Kampung Halaman

“Orang tua ingin saya pulang, berdakwah di sini, membimbing muslim di NTT yang sedikit. Karena tidak ada Ustaz yang membimbing, jadi jalan masing-masing. Masjid sudah jarang, sepi, maka jangan sampai mati (kegiatan masjidnya),” kata Ustaz Ahmad seorang dai tepian negeri.

ustaz ahmad talan
Ustaz Ahmad saat mengajar mengaji anak-anak di masjid Al-Aqsam Oenai. (ACTNews)

ACTNews, TIMOR TENGAH SELATAN – Setinggi-tingginya burung terbang, ia akan kembali ke sarang juga. Pribahasa itu ibarat menganalogikan kehidupan Ustaz Ahmad Talan, seorang dai tepian negeri.

Rumah dan kampung halaman adalah tempat terbaik untuk pulang. Lahir dan besar di kampung halaman, juga makan dari tanaman yang tumbuh dari tanah di kampung halaman. Alasan itulah yang membuat Ustaz Ahmad Talan kembali ke kampung halaman, setelah merantau dan menuntut ilmu di satu pesantren di Pasuruan. Jawa Timur, selama hampir 5 tahun.

Tawaran untuk menjadi pengajar di tanah rantau ia kesampingkan demi mengabdi di kampung halaman di Dusun Nono, Desa Napi, Kecamatan Kie, Kabupaten Timor Tengah Selatan, NTT. 

Desa Napi berada di perbukitan Akses jalan menuju Desa Napi masih berupa tanah dan batu. Saat musim hujan, pengendara harus berhati-hati, karena banyak lubang di sana sini. Meski akses masih sulit, hal itu tidak menyurutkan niat Ustaz Ahmad untuk pulang.

Selain alasan tersebut, Ustaz Ahmed juga khawatir kondisi muslim di wilayahnya berkurang lantaran tidak ada bimbingan agama secara terus menerus. Jumlah muslim di Napi hanya 8 KK masjid terdekat pun berjarak 8,3 kilometer tepatnya di Desa Oenai. Desa tetangga. 

“Saya buat pengajian anak-anak di Masjid Al-Qasim Oenai, karena di sini tidak ada yang mengajar ngaji anak-anak. Para orang tua juga sama, datang salat, sudah terus balik begitu. Jumlah muslim masih sedikit, masjid juga jarang toh di NTT. Jangan sampai masjid yang ada semakin kosong dan mati, sebab itu saya buat kegiatan,” kata Ahmad, Kamis (10/6/2021). 

Ahmad menceritakan, muslim di wilayahnya menjadi minoritas. Dalam satu desa, jumlah muslim tidak lebih dari 20 KK. Dalam satu desa belum tentu juga ada masjid atau musala. Jika ada musala, biasanya bantuan, jarang yang hasil swadaya.

“Masyarakat di sini bertani di kebun atau punya ternak. Rumahnya dari kayu, sedikit yang tembok. ekonomi susah, hanya cukup untuk makan. Makannya jarang sekali musala dibangun dari swadaya, masjid jauh, jadi mereka salat di rumah masing-masing,” jelas bapak tiga anak ini. 

Selain mengajar ngaji dan dakwah di masjid Al-Aqsam Oenai, Ustaz Ahmad juga membimbing jemaah di Masjid Naileu dan Masjid Belle yang masing-masing berjarak 14,1 kilometer dan 17,1 kilometer dari rumahnya di Desa Napi. Meski jarak tempuh yang jauh dan akses jalan yang buruk, Ustaz Ahmad tetap gigih berdakwah. 

Ekonomi Ustaz Ahmad sebenarnya juga belum sejahtera. Penghasilan sehari-harinya dari bertani dan menjadi pengemudi ojek. Motor yang ia pakai juga sudah tua dan sering mogok saat dibawa perjalanan jauh. Ia berharap memiliki kendaraan baru untuk berdakwah sehingga dapat tepat waktu sampai ke masjid.

“Saya pesantren bukan untuk diri saya sendiri, orang tua ingin saya pulang ke kampung halaman, tinggal di sini, berdakwah. Biar muslim di sini ada yang bimbing. Saya keliling pakai motor bekas. Sering mogok, jadi suka telat kalau sampai di masjid. Kasihan juga anak-anak, tapi mau bagaimana lagi?” ungkapnya.[]