Perjuangan Dakwah Ustaz Nurul Rafiq di Pulau Kubung

Memerangi informasi keliru bahwa menjadi muslim itu sulit dan dipungut biaya menjadi tantangan dakwah Ustaz Nurul Rafiq di Pulau Kubung, Kota Batam. Tak hanya itu, pihak tertentu juga kerap mempersulit proses administrasi orang-orang muslim.

ustaz nurul rafiq
Ustaz Nurul Rafiq saat diwawancarai ACTNews. (ACTNews/Akbar)

ACTNews, BATAMHidup sebagai perantau di lingkungan yang mayoritas non-muslim tidaklah mudah. Perawakan dan suara yang kecil dianggap sebagai sebuah kekurangan dan kerap direndahkan. Hal inilah yang dialami Nurul Rafiq saat pertama kali sampai di Pulau Kubung, Kelurahan Ngenang, Kecamatan Nongsa, Kota Batam.

Nurul Rafiq merupakan seorang Dai dan muslim pertama di pulau tersebut. Nurul Rafiq sendiri memeluk Islam pada akhir 90-an, lalu diikuti oleh sang istri. Di Kubung, Rafiq berdakwah dari pintu ke pintu. Hal ini pun sempat menimbulkan fitnah di warga setempat bahwa Rafiq mendatangi istri di saat para suaminya melaut. Padahal Rafiq ditemani sang istri saat berdakwah.

"Saya heran, difitnah memasuki rumah-rumah warga lalu difitnah punya hubungan sama istri-istrinya, karena suaminya kan pada melaut. Padahal saya juga ditemani istri saya dan saat saya silaturahmi pintunya dibuka, ada anak-anaknya," kata Rafiq, Kamis (18/3/2021).

Untuk menghindari fitnah semacam itu, Rafiq dan istri akhirnya menginisiasi membuat musala, nantinya dakwah akan dipusatkan di tempat tersebut. Namun, Rafiq tidak punya tanah untuk mendirikannya, hingga akhirnya ia mengutarakan niatnya ke sang mertua sekaligus meminta izin menggunakan tanah.

"Mertua setuju, dia percaya meskipun saya orangnya kecil tapi suaranya besar lantang dan berani. Akhirnya musala didirikan di atas tanah yang digunakan sebagai dapur. Ini musala dulunya dapur milik mertua, lalu ubah buat musala," ujar Rafiq.


Ustaz Rafiq saat berjalan. Akibat kecelakaan, kini ia harus berjalan menggunakan tongkat. (ACTNews/Akbar)

Untuk mendirikan tempat ibadah diperlukan syarat dan izin dari berbagai pihak. Salah satu syaratnya ialah persetujuan 40 keluarga dan izin dari tokoh masyarakat, RT, RW dan kelurahan. Saat memenuhi persyaratan tersebut, Rafiq belum sanggup memenuhi syarat persetujuan 40 keluarga.

“Di sini muslim baru ada 3 keluarga, susah kalau minta persetujuan 40 keluarga. Saya bilang ke RT dan lurah, ‘enggak apa-apa setujui saja, saya yang tanggung jawab. Ini kan masih di Indonesia, Bhineka Tunggal Ika, setiap orang bisa tenang dengan agamanya masing-masing’. Karena mereka enggak mau tanggung jawab kalau ada apa-apa, makannya saya bilang begitu," jelas Rafiq.

Dalam menyiarkan Islam, Rafiq tak mengenal lelah. Orang-orang Pulau Kubung mempercayai informasi bahwa untuk memeluk Islam harus membayar sejumlah uang, sehingga enggan untuk memeluk agama Islam. Padahal, info tersebut tidaklah benar dan Rafiq harus berjuang memeranginya.

Rafiq menceritakan, warga yang sudah berumah tangga dan ingin masuk Islam pun mendapat tekanan. Pihak tertentu meminta sejumlah uang untuk mengubah status keagamaan. Hal ini membuat warga berpikir ulang hingga akhirnya Rafiq merogoh kocek sendiri untuk membiayai mereka yang ingin mengubah status keagamaan dan menikah ulang di KUA setempat. Padahal ekonomi Rafiq sendiri kondisinya pun layaknya warga lain, masih terbatas.

"Yang ingin menikah atau sudah berumah tangga lalu menikah ulang, ganti KTP jadi Islam, enggak apa-apa saya bayar, demi agama Allah. Jadi ada pihak yang mempersulit begitu, makanya banyak yang enggak mau, (masuk Islam) katanya susah, nanti bayar juga," tutur Ustaz Rafiq.

Rafiq merupakan satu dari sekian banyak dai yang ikhlas berdakwah mensyairkan agama Islam di pulau-pulau kecil di Kota Batam. Meskipun hidup dalam kesulitan dan jauh dari kemewahan, para dai tetap semangat berdakwah demi tegaknya agama Allah.[]