Perjuangan dan Kendala Dakwah Ustazah Hadija di Buton Tengah

Ustazah Hadija konsisten berdakwah memberantas buta huruf Al-Quran. Ia pun berdakwah di tengah keterbatasan sarana pesantren.

hadija buton tengah
Ustazah Hadija sedang menyampaikan pelajaran. (ACTNews)

ACTNews, BUTON TENGAH – Perjuangan memberantas buta huruf Al-Qur’an merupakan perjalanan panjang. Perlu konsistensi dan perjalanan panjang. Itulah yang dilakukan Ustazah Hadija, guru mengaji di Pondok Pesantren Hidayatullah Buton Tengah, Desa Wakambangura 2, Kecamatan Mawasangka, Kabupaten Buton Tengah, Provinsi Sulawesi Tenggara. 

“Pesantren Hidayatullah Buton Tengah tempat saya mengabdi berada di tengah-tengah masyarakat yang masih kental dengan tradisi nenek moyang. Ini juga menjadi tantangan, di samping membagi waktu dengan anak,” ujar ibu dengan anak usia tiga tahun itu, Jumat (19/11/2021).

Ikhtiar Hadija memberentas buta huruf Al-Qur’an juga diuji dengan sarana dan prasarana pesnatren yang masih minim. Mayoritas santri berasal dari keluarga tidak mampu sehingga pondok tidak mematok biaya tinggi. Hadija mengungkapkan, banyak  santri yang tidak mampu membeli Al-Qur’an sehingga harus bergantian menggunakan Al-Qur’an.

Selain Al-Qur’an, kegiatan mengaji sering kali terkendala cuaca. Balai mengaji yang terbuka dan terbuat dari bilik bambu membuat pengajian dihentikan saat hujan deras. Kemudian santri gotong royong menadah air hujan untuk persediaan keperluan bersuci. 

“Di tempat kami, air tawar sangat sulit. Harga satu kubik air tawar Rp200 ribu dan air sebanyak itu digunakan untuk keperluan selama dua hari,” ujar Hadija. 

Mendukung perjuangan Hadija, Global Zakat-ACT memberikan bantuan kehormatan berupa biaya hidup, Jumat (19/11/2021). Hadija pun menyampaikan ungkapan terima kasihnya kepada muzaki yang telah menitipkan zakatnya melalui Global Zakat-ACT untuk para dai dan guru.

“Bantuan ini bukti atas firman Allah dalam surat Muhammad ayat 7 ‘Orang beriman yang menolong agama Allah, niscaya Allah akan menolongnya,” tuturnya.[]