Perjuangan Duprani dan Mimpi Sederhananya Usai Mengajar Nanti

Kendati menjadi guru di SDN Pelambuan 4 Banjarmasin, nyatanya ia kesulitan untuk memenuhi kebutuhan mengajar. Seperti tidak memiliki ponsel pintar untuk pembelajaran jarak jauh dan kesulitan untuk membeli kuota yang disediakan dari pemerintah untuk megajar secara daring.

Duprani dengan sepeda yang dikayuhnya saat menyambangi Kantor Cabang Aksi Cepat Tanggap Kalimantan Selatan. (ACTNews/Retno)

ACTNews, BANJARMASIN - Duprani (59) tiba di kantor ACT Kalimantan Selatan. Tepat seperti janjinya, ia tiba pada Rabu (11/11) sore. Ia menggunakan sepeda yang biasa digunakannya untuk pergi ke sekolah. Baju sasirangan (batik khas Kalimantan Selatan) berwarna merah membuatnya tampak lebih muda. Ditambah senyum yang senantiasa terukir di wajahnya. 

Sore itu Duprani kembali mendapatkan bantuan biaya hidup program Sahabat Guru Indonesia (SGI) dari Global Zakat - ACT Kalsel. Ia bersyukur, bantuan tersebut akan dipergunakan untuk membeli kuota internet untuk mengajar secara daring. Duprani mengaku sudah 2 bulan terakhir tak mendapatkan bantuan kuota dari pemerintah. "Biasanya kami diberi Rp50 ribu per bulan untuk pembelian kuota internet, tapi sudah dua bulan tidak ada lagi," ungkapnya. 

Semenjak pandemi Covid-19, Duprani mengajar melalui media grup WhatsApp dan setiap hari harus piket ke sekolah di SDN Pelambuan 4 Banjarmasin. Pukul 07.30 WITA, ia harus berangkat ke sekolah, dan pukul 12.00 WITA pulang. Begitu rutinitas yang dijalaninya setiap hari. Perjalanan 10 kilometer ditempuhnya hanya dengan mengayuh sepeda. Di samping itu, Duprani juga harus mengajar baca tulis Alquran untuk kelas 1, 2, dan 3.


Duprani, guru SDN Pelambuan 4 Banjarmasin yang menerima manfaat program Sahabat Guru Indonesia dari ACT Kalimantan Selatan. (ACTNews/Retno)

Ia pun tak mempunyai ponsel pintar, sehingga pihak sekolah meminjamkannya. Kendati telah difasilitasi, Duprani mengaku sangat kesulitan mengoperasikannya. "Menggunakan laptop saja masih bingung, jadi ya sambil dibantu juga saat ngajar," ujarnya. 

Kebaikan para dermawan kembali melahirkan tawa di tubuh renta Duprani yang sedang menyiapkan diri untuk pensiun pada tahun depan. Ia sendiri telah memiliki rencana untuk menikmati masa pensiun. Lantas, apa yang akan dilakukan Duprani?

"Ingin pulang kampung dan bertani saja," begitu jawabnya sembari tergelak kala Tim ACT Kalimantan Selatan bertanya rencananya setelah pensiun nanti. 


Di kesempatan yang sama, Koordinator Program ACT Kalsel Retno Sulisetiyani bersyukur, Duprani merupakan guru yang memiliki semangat mengajar walau harus menghadapi rintangan dalam menghadapinya. Apalagi, di tengah pandemi Covid-19 yang memaksanya harus mengajar secara daring, di tengah keterbatasannya dalam menggunakan teknologi seperti ponsel pintar maupun laptop.

Retno pun berharap, mimpi yang diidamkan oleh Duprani dapat terwujud, terlebih dengan manfaat yang ia dapati dari program Sahabat Guru Indonesia. “Melalui kebaikan dermawan, semoga mimpi Duprani bisa terwujud nanti. Aamiin,” ucap Retno. []