Perjuangan Guru Honorer Abdul Muisht Memenuhi Kebutuhan Sehari-hari

“Karena siswa di sini tidak ditarif uang SPP. Tapi alhamdulillah, Allah masih kasih saya rezeki,” kata Abdul Muisht.

guru honorer bekasi
Abdul Muisht usai menerima bantuan biaya hidup dari Global Zakat-ACT. (ACTNews)

ACTNews, KOTA BEKASI — Kesejahteraan para guru honorer masih banyak yang di bawah standar. Gaji yang diterima juga di bawah UMR dan sering kali dirapel beberapa bulan. Akibatnya, selain mengajar, para guru mencari sumber penghasilan sampingan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. 

Salah satu guru yang menjalani hal tersebut adalah Abdul Muisht (54). Seorang guru di salah satu madrasah ibtidaiyah swasta di bilangan Kelurahan Pekayon, Kecamatan Bekasi Selatan, Kota Bekasi. Sebagai guru honorer, Abdul digaji Rp500 ribu per bulan. Uang tersebut ia dapat dari para murid yang sukarela membayar. 

“Karena siswa di sini tidak ditarif uang SPP. Tapi alhamdulillah, Allah masih kasih saya rezeki,” kata Abdul Muisht, Rabu (19/5/201). 


Meski gaji dari menjadi guru tidaklah besar, Abdul mengaku tak akan berhenti menjadi guru. Baginya ini bukan ladang mencari uang, melainkan ladang perjuangan dalam menyiapkan penerus bangsa dan agama yang unggul. 

Selain menjadi guru, Abdul juga berjualan kue kue kering keliling setiap hari. Hasil berjualan digunakan untuk mencukupi kebutuhan hariannya. Rata-rata penghasilannya kotornya dari berjualan kue kering sebesar Rp70 ribu sehari. Namun, jika sepi, Abdul pulang dengan tangan kosong. 

“Namanya orang dagang itu kadang laku, kadang enggak laku. Kalau laku alhamdulillah untungnya cukup buat makan. Kalau enggak laku, iya pulang enggak bawa apa-apa selain bawa dagangan,” ujarnya. 


Fisiknya yang sudah tidak prima membuat Abdul berjualan tidak maksimal. Saat sehat, ia bisa berkeliling dari siang (sepulang sekolah) hingga magrib. Namun saat ini, ia hanya mampu berjualan hingga pukul 16.00 WIB. Ini mempengaruhi keuntungan yang ia dapat. 

Meringankan beban hidup Abdul, Global Zakat-ACT memberikan bantuan biaya hidup melalui program Sahabat Guru Indonesia (SGI). Abdul berharap, program SGI dapat menjangkau lebih banyak guru prasejahtera, agar manfaat lebih terasa. “Terima kasih kepada Allah dan ACT yang telah membantu perekonomian saya. Semoga program SGI dapat panjang dan menyebar luas,” ungkapnya. []