Perjuangan Guru Honorer Menuju ke Sekolah

Perjuangan guru honorer untuk ke sekolah tidaklah mudah. Selain jarak sekolah yang jauh dari rumah, seringkali akses jalan ke sekolah juga masih sulit dilewati.

perjuangan guruke sekolah
Ilustrasi. Kondisi jalanan yang harus dilalui guru honorer di Medan. (ACTNews/Reza Mardani)

ACTNews, PURWOREJO – Pembangunan yang belum merata membuat banyak guru harus berjuang ekstra untuk mendidik para siswa. Mulai dari menempuh jarak ke sekolah yang cukup jauh hingga guru honorer yang bergaji rendah.

Iksan Saadullah, guru honorer di satu sekolah dasar di Desa Maron, Kecamatan Loano, Kabupaten Purworejo harus menempuh jarak 22 kilometer setiap hari untuk bisa sampai ke sekolah. Jarak tersebut Iksan tempuh selama 40 menit menggunakan sepeda motor. 

“Pulang-pergi sekitar 44 kilometer. Boros bensin, sehari bisa habis Rp15 ribu dibandingkan gaji sebulan Rp600 ribu,” kata Iksan saat ditemui tim ACT Purworejo di rumahnya di Desa Semono, Kecamatan Bagelen, Ahad (26/9/2021).

Berbeda dengan Iksan, Bayu Prihandono harus melewati jalan yang sulit untuk mengajar. Selama kurun waktu 2009 hingga 2015, Bayu melewati jalan yang saat hujan jalan licin dan rawan longsor, sementara saat musim kemarau berdebu. 

“Enam tahun mengajar di SD daerah Tepansari, jalan belum dibangun. Sekarang pindah ke SD Rimun jarak lebih jauh sekitar 7,7 kilometer dari rumah di Desa Mudalrejo, tapi jalan sudah dibangun,” ungkap Bayu. Gaji sebagai guru honorer Rp900 ribu per bulan. Rinciannya Rp200 ribu dari sekolah, Rp700 ribu dari Penerimaan Dana Pengembangan Sekolah (PDPS).

Hal yang sama dialami Yusup Hidayat, guru honorer satu sekolah di Desa Tegaldatar, Kecamatan Maniis, Kabupaten Purwakarta. Jarak dari rumah Yusup di Desa Cijati ke sekolah 3 kilometer. Namun karena akses jalan yang masih berupa tanah merah, membuat perjalanan terganggu. 

“Kalau hujan harus berhati-hati, karena licin dan bisa tergelincir. Pernah tergelincir, tapi karena semangat, jadi iya enggak apa-apa,” kata Yusup kepada tim ACT Purwakarta. 

Sementara guru honorer yang lain Siti Nurjanah harus menempuh jarak 41 kilometer ke sekolah di bilangan Cinangka, Kecamatan Bungursari, Kabupaten Purwakarta. Hal tersebut sudah Siti lakukan selama 16 tahun. “Selesai solat subuh harus sudah jalan, biar enggak telat,” ungkapnya.[]