Perjuangan Guru Honorer Sembuhkan Sakit Sang Anak

Eni Susmowati, ibu dua anak, saat ini harus menjadi tulang punggung keluarga pasca ditinggal meninggal sang suami dan anak pertamanya mengalami PHK dampak pandemi. Guru yang telah mengabdi 27 tahun itu pun tetap bertahan untuk keluarganya walau hanya digaji dengan nilai ratusan ribu rupiah per bulan dan berikhtiar menyembuhkan anak keduanya yang mengalami komplikasi ginjal.

Perjuangan Guru Honorer Sembuhkan Sakit Sang Anak' photo
Eni saat ditemui tim ACT dan MRI Banjarnegara. (ACTNews)

ACTNews, BANJARNEGARA – Hingga tahun ini, terhitung sudah 27 tahun Eni Susmowati menjadi seorang guru di Raudatul Atfal Cokroaminoto 01, Desa Majalengka, Kecamatan Bawang, Banjarnegara. Waktu yang terhitung cukup lama bagi seorang guru mengabdikan dirinya. Tak ada keluhan dari ibu dua anak ini, walau hanya digaji rendah hitungan ratusan ribu rupiah saja per bulannya.

Tahun demi tahun dilewati. Berbagai tantangan pun harus Eni hadapi, baik dalam profesinya sebagai pendidik maupun seorang ibu dan istri tanpa suami. Di era pandemi seperti sekarang ini, Eni mendapatkan tantangan baru dalam memberikan pelajaran dengan murid. Terbatasnya tatap muka membuat ia mengkomunikasikan ke orang tua murid untuk memberikan pelajaran ke anak-anak yang usianya masih dini. Sedangkan dalam menjalankan peran sebagai orang tua, Eni mendapatkan tantangan untuk mengurus anaknya yang divonisi sakit ginjal.

Meilia Widiyanti (13) namanya. Anak kedua Eni yang masih duduk di kelas 2 di salah satu sekolah menengah pertama di Banjarnegara ini mengalami komplikasi ginjal. Akibat sakit ini, Meilia tak bisa mengonsumsi makanan yang agak keras. Ia hanya bisa mengonsumsi roti-roti yang halus dan mudah dicerna.

Dalam pengobatan Meilia, Eni dibantu anak pertamanya guna pembiayaan. Anak pertama Eni sudah memiliki pekerjaan sendiri. Sayang, pandemi Covid-19 yang melanda sejak Maret lalu juga berdampak pada pekerjaan tersebut. Kakak Meilia mengalami pemutusan hubungan kerja karena  kondisi finansial perusahaan tempatnya bekerja ikut terdampak pandemi.

Kini, di tengah pandemi, Eni menjadi tulang punggung keluarga. Selain untuk pemenuhan kebutuhan harian keluarga, ia harus menyisihkan uang untuk pengobatan anaknya. Ia pun kini hanya berharap kondisi segera kembali normal dan anaknya bisa disembuhkan.

Aksi Cepat Tanggap (ACT) Purwokerto bersama Global Zakat sejak beberapa waktu lalu sudah menyalurkan bantuan kemanusiaan bagi Eni dan keluarganya. Beberapa di antaranya adalah bantuan biaya hidup dari program Sahabat Guru Indonesia yang sudah 2 kali menyapa Eni, paket sembako dan pemenuhan gizi untuk Meilia, uang tunai dari program Mobile Social Rescue (MSR) untuk pengobatan Meilia, serta paket pangan kebutuhan pokok harian.

Rama Fardiansyah dari tim Program ACT Purwokerto mengatakan, saat ini, Eni menjadi satu-satunya tulang punggung keluarga. Eni pun tak memiliki pekerjaan sampingan. Untuk itu, hadirnya pandemi ini cukup berat baginya. Selain berusaha memenuhi kebutuhan keluarga, ia juga harus berjuang mengobati anaknya.

“Saat ini ACT Purwokerto berikhtiar melakukan pendampingan kepada Bu Eni dan anaknya. Semua pihak pun bisa ikut berpartisipasi dalam aksi kebaikan ini dengan menyalurkan sedekah melalui BNI Syariah 88 0000 7871 atas nama Aksi Cepat Tanggap atau melalui lama Kitabisa,” ajak Rama, Selasa (22/9).[]


Bagikan

Terpopuler