Perjuangan Guru Mada Jadi Tulang Punggung Keluarga

“Sekarang lebih berat, Mas. Penghasilan saya dipotong karena terdampak Covid-19. Mau enggak mau, saya harus putar otak supaya saya dan anak-anak bisa bertahan. Insyaallah semoga saya terus dikuatkan jalannya,” jelasnya.

Perjuangan Guru Mada Jadi Tulang Punggung Keluarga
Mada mengajar siswa-siswi di SDN 013 di Desa Teluk Air, Kecamatan Karimun, Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau. (ACTNews)

ACTNews, KABUPATEN KARIMUN – Guru sering disebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Tak lain, semua ini karena peran guru yang tanpa pamrih dalam mendidik dan mengajar generasi penerus bangsa. Di tengah peran guru yang begitu penting, ternyata masih banyak guru yang kurang diapresiasi dan prasejahtera.

Selain ibu tiga orang anak, Mada, seorang guru honorer di sekolah dasar negeri di Desa Teluk Air, Kecamatan Karimun, Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau, salah satunya. Ia telah menjadi guru honorer selama 4 tahun. Selama itu pula, ia hanya mendapat penghasilan sebesar Rp850 ribu per bulan.

“Menjadi guru adalah jalan hidup saya Mas, walaupun dalam segi penghasilan ya begini keadaannya. Saya harus sabar dan ikhlas karena Allah, ini semua demi mencerdaskan dan membuat mereka (anak didik) sukses,” ungkap Mada.

Mada adalah orang tua tunggal yang harus menghidupi ketiga orang anak. Ia harus memenuhi kebutuhan hidup dan membayar biaya sekolah anak.

“Sekarang lebih berat, Mas. Penghasilan saya dipotong karena terdampak Covid-19. Mau enggak mau, saya harus putar otak supaya saya dan anak-anak bisa bertahan. Insyaallah semoga saya terus dikuatkan jalannya,” jelasnya.

Bulan ini, Mada menjadi salah satu penerima manfaat program Sahabat Guru Indonesia. Ia mengaku, sejauh ini perjuangannya sebagai seorang guru honorer diperhatikan oleh Sahabat Dermawan.[]