Perjuangan Juli Mendirikan Pesantren di Kampungnya

Tanpa modal, Juli Ahirin dan istrinya mendirikan Pesantren Qoryatul Quran di Kepahiang, Bengkulu yang kini sudah berjalan dua tahun. Para pengajarnya tak mendapatkan gaji yang besar. Bagi mereka, bisa melihat anak dari keluarga prasejahtera mendapatkan pendidikan merupakan kebahagiaan tersendiri.

Perjuangan Juli Mendirikan Pesantren di Kampungnya' photo
Suasana belajar di Pesantren Qoryatul Quran, Kepahiang sebelum pandemi melanda. (ACTNews)

ACTNews, KEPAHIANG – Pesantren Qoryatul Quran menjadi salah satu fasilitas pendidikan Islam yang ada di Desa Embong Ijuk, Bermani Ilir, Kabupaten Kepahiang. Saat ini, 50 santri menimba ilmu di pesantren yang baru berdiri kurang dari dua tahun ini. Juli Ahirin bersama sang istri merupakan pendiri pendidikan berbiaya murah tersebut. Mereka mendirikan Pesantren Qoryatul Quran tanpa modal. Namun, keyakinan dan perjuangan Juli seakan menjadi tiang pancang yang kuat untuk pesantren ini berdiri.

Tak ada bangunan permanen di kompleks Pesantren Qoryatul Quran. Bahkan, selama berdirinya, sudah beberapa kali lokasi pesantren berpindah tempat. Kini, lokasinya berada di lereng bukit yang memiliki potensi longsor sewaktu-waktu. Tanahnya pun merupakan wakaf.

“Jumlah santri alhamdulillah seiring waktu terus bertambah. Semoga benih pejuang Islam terus lahir dari tempat ini,” harap Juli.

Juli tak sendirian mengajar di Pesantren Qoryamul Quran. Ia dibantu oleh beberapa orang, namun mereka tidak menetap di pesantren. Tidak ada bayaran besar untuk pendidik di pesantren tersebut. Bagi Juli dan guru-guru lainnya, ilmu yang bermanfaat serta murid yang tak sedikit dari keluarga prasejahtera bisa mendapatkan akses pendidikan merupakan kebahagiaan tersendiri.

Mengapresiasi perjuangan Juli yang mendirikan pesantren tersebut, Global Zakat-ACT pada Senin (26/10) kemarin memberikan bantuan biaya hidup dari program Sahabat Guru Indonesia. Sambutan baik pun datang dari Juli. Ia berterima kasih atas bantuan yang telah diberikan baginya sebagai pendidik. Pasalnya, bantuan ini bukanlah yang pertama Pesantren Qoryatul Quran terima dari ACT.

“Terima kasih atas adanya biaya hidup dari Sahabat Guru Indonesia,” ungkap Juli. Program Sahabat Guru Indonesia sendiri merupakan program yang sumber dananya dari zakat yang disalurkan masyarakat melalui Global Zakat-ACT.

Sebelumnya, pada Januari lalu, ACT juga pernah memberikan bantuan ke pesantren yang Juli dirikan. Kala itu, ACT mendistribusikan 500 kilogram beras untuk kebutuhan pangan santri melalui program Beras untuk Santri Indonesia (BERISI).[]