Perjuangan Jumiati, Uwak Tapai dari Medan

Produksi dan pembeli tapai Jumiati memang menurun semenjak pandemi, namun semangatnya dalam mencari penghidupan tidak pudar. Sembari mengurus anak-anaknya, Jumiati masih menjajakan tapai-tapai tersebut ke warung yang ada di sekitar lingkungannya maupun secara langsung kepada orang-orang.

Perjuangan Jumiati, Uwak Tapai dari Medan' photo
Jumiati sedang mengupas singkong-singkongnya. (ACTNews/Reza Mardhani)

ACTNews, MEDAN – Jumiati (47) masih berusaha mengupas singkong-singkong yang telah direndam dalam baskom. Sesekali anak tengahnya yang masih duduk di bangku SD memanggil meminta diambilkan air minum. Bolak-balik Jumiati mengurus anaknya yang tengah demam pada Senin (3/8) itu, kemudian kembali mengupas singkong.

“Sabar ya, bang, ibu masak sebentar,” kata Jumiati sambil memberikan air minum ke anaknya. Begitu pula dengan anak perempuannya yang bungsu membantu menenangkan si abang.

Demikian yang harus dijalani Jumiati. Setiap harinya warga Jalan Garu 2, Kecamatan Medan Amplas, Kota Medan ini harus mengurus rumah tangga sekaligus memproduksi tapai untuk tambahan nafkah bagi keluarga. Secara tidak langsung, ia juga dibantu suaminya yang bekerja sebagai pengayuh becak untuk mengambil kayu-kayu bekas dari bangunan.

“Biasanya bapak yang mintakan ke tukang bangunan, atau tukang foto yang bingkainya sudah enggak terpakai. Kayu-kayu ini yang biasanya saya gunakan untuk menyalakan api di tungku. Sebenarnya kompor ada juga, tapi lumayan menghemat kan kalau pakai kayu,” jelas Jumiati sembari tertawa.


Jumiati sedang berusaha memanaskan tungku tempat ia akan memasak. (ACTNews/Reza Mardhani)

Tapai-tapai yang sudah diproduksi Jumiati kemudian akan dititipkan ke warung-warung terdekat dan sisanya akan dijual secara berkeliling. Sebelum memiliki sepeda motor pada tahun 2018 lalu, ia menggunakan sepeda tua dengan keranjang di depannya untuk mengantar ataupun menjajakan tapai ini.

Dari setiap tapai yang terjual, Jumiati akan mengambil untung sebesar Rp800. Namun belakangan, Covid-19 membuat banyak warung tutup dan sepi. Sehingga, seringkali dagangannya kembali kepadanya lagi karena sedikit pembeli.

“Di masa seperti ini juga, saya kurangi produksi sedikit. Daripada nanti tidak laku dan tidak termakan. Biasa bisa lebih dari 200 bungkus, ya sekarang hanya sekitar 200 bungkus yang ibu keluarkan (produksi). Dari 200 bungkus, ada 20 atau 10 bungkus yang kembali,” ujar Jumiati.

Otomatis penghasilan agak berkurang bagi Jumiati, sementara di sisi lain kebutuhan makin banyak. Sebut saja dengan adanya pembelajaran jarak jauh, ia harus sering-sering membeli kuota internet untuk memastikan ketiga anaknya tetap mendapatkan pendidikan.


“Paket internetnya itu juga membuat beratlah memang, ini semalam saja baru habis. Dibeli yang harga untuk satu bulan, tapi tidak sampai satu bulan habis juga. Bertambah terus terang pengeluaran saya. Memang handphonenya satu, tapi dipakainya bertiga,” ungkap Jumiati.

Karena berkurangnya pelanggan dan jumlah produksi, jika ada kesempatan, Jumiati ingin sekali merambah usaha lain sambil tetap berjualan tapai. Alasannya karena usaha tapai ini sudah lama ia geluti sejak 2009 dan cukup dikenal oleh warga.

“Karena jualan tapai ini kan orang memanggil saya saja, ‘Uwak Tapai!’. Karena kadang kan orang tidak kenal nama kita, jadi panggilannya Uwak Tapai. Jadi tidak akan berhenti sampai kapan pun, mudah-mudahan. Karena istilahnya sudah membawa berkah usaha yang ibu jalankan ini,” tutur Si Uwak Tapai.

Usaha ini pula yang mempertemukannya dengan amanah dermawan dari program Sahabat Usaha Mikro Indonesia (UMI). Pada Juni lalu, ACT Sumatra Utara sedang mencari masyarakat yang membutuhkan di sekitaran Kota Medan, kemudian melihat Jumiati dengan sepeda motornya.

“Katanya saat itu dia lagi survei. Saat saya melintas dia tanya, ‘Ibu dahulu itu jual tapai pakai sepeda kan?’ Saya tanya lagi ‘Kok kamu tahu?’ Ternyata dia kuliah di dekat-dekat sini dan mengekos di gang sebelah,” kenang Jumiati.


Sepeda tua Jumiati yang dahulu sering ia pakai untuk berjualan. (ACTNews/Reza Mardhani)

Jumiati pun bersyukur dengan adanya program ini. Sedekah modal usaha dari para dermawan telah membantu usahanya untuk kembali berjalan. “Bersyukur sekali karena telah dibantu pengusaha-pengusaha kecil seperti kita ini. Dengan adanya bantuan modal ini, istilahnya bisa menutup modal ini sedikit-sedikit. Istilahnya kalau sedang tidak laku, bisa untuk menutupi kerugian itu juga sedikit,” terang Jumiati.

Sakti Wibowo dari Tim Program ACT Sumatra Utara juga bersyukur bantuan ini dapat bermanfaat bagi Jumiati. Ia mengajak para dermawan untuk terus mendukung usaha Jumiati maupun para pengusaha ultra mikro lainnya bersama ACT.

“Terutama di masa pandemi seperti ini, kita dengar para pelaku usaha sedang kesulitan dalam berjualan. Maka kita berharap partisipasi dari para dermawan sekalian agar para pelaku usaha ini dapat terus melangsungkan kegiatan usahanya dengan bantuan kita bersama,” ajak Sakti.

Sambil menunggu tapai-tapai yang matang dikukus, Jumiati kembali mengambilkan air minum buat si anak tengah. Di tengah kesibukannya mengurus dagangan, ia menasehati anaknya itu agar ke depannya tidak perlu lagi bermain di tengah hujan. []


Bagikan