Perjuangan Kamal Mudahkan Pendidikan Anak di Pelosok Tasikmalaya

Prihatin terhadap kondisi anak-anak di kampung halamannya yang sulit sekolah karena akses jalan, Kamal pun berinisiatif membangun sekolah sederhana dekat dengan rumah mereka.

Perjuangan Kamal Mudahkan Pendidikan Anak di Pelosok Tasikmalaya' photo
Muhammad Kamaludin, guru sekaligus perintis MIs Cilenja di Tasikmalaya. Ia menyisihkan uang pribadinya untuk membangun sekolah ini. (ACTNews/Eko Ramdani)

ACTNews, TASIKMALAYA  Anak-anak di Desa Campakasari, KAbupaten Tasikmalaya harus menempuh jarak lebih kurang 5 kilometer melewati perkebunan teh serta jalan yang belum beraspal demi ke sekolah dasar terdekat. Kondisi ini membuat Muhammad Kamaludin pulang ke kampungnya di desa tersebut setelah beberapa saat merantau ke ibu kota Jawa Barat, Bandung. Ia meratap kenyataan bahwa jarak membuat anak-anak di kampungnya tak dapat bersekolah setiap hari. Kamal, sapanya, bertekad memfasilitasi anak kampung halamannya untuk dapat bersekolah di lokasi yang dekat dengan rumah mereka.

Pada 2014, Kamal bersama dua kerabatnya mulai merintis bangunan Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIs) Cilenja di Desa Campakasari, Kecamatan Bojonggambir Kabupaten Tasikmalaya. Berbekal semangat serta tekat yang kuat, mereka bertiga mulai membangun sekolah seadanya dengan uang tabungan pribadi.

“Setiap dapat duit, sebagian selalu disisihkan buat modal bangun sekolah ini (MIs Cilenja),” tutur Kamal kepada ACTNews, Jumat (24/1).


Murid MIs Cilenja berfoto di depan sekolah mereka. (ACTNews/Eko Ramdani)

Kamal yang bekerja sebagai guru serta petani saat itu selalu menyisihkan penghasilannya sebagai modal awal membeli lahan yang bakal dibangun sekolah. Ia memilih lahan sekolah persis berada di puncak bukit. Harga menjadi alasan, serta sang pemilik tanah berbaik hati untuk memberi harga murah serta sebagiannya diberikan sebagai wakaf.

Uang yang terbatas membuat Kamal dan dua perintis sekolah lainnya hanya bisa membeli bahan bangunan seadanya tanpa mampu membayar pekerja bangunan. Namun, dukungan dari sebagian warga membuat bangunan sekolah berdiri. Mereka bekerja tanpa dibayar.

Niatnya yang mulia untuk menyediakan fasilitas sekolah dekat perkampungan tak serta-merta mendapatkan apresiasi. Tak jarang Kamal mendapat cemoohan dari warga sekitar karena sekolah yang dibangunnya minim fasilitas. “Bangunannya kan emang seadanya. Temboknya juga cuma dari bambu, enggak ada lantai juga. Warga sering bilang kalau sekolah ini mirip kandang ayam,” kenangnya.

Namun, kini perjuangannya demi mendekatkan fasilitas sekolah ke perkampungan warga membuahkan hasil. Kondisi bangunan sekolah masih seadanya tak membuat semangat anak kampung luntur untuk belajar. Sekitar 70 murid saat ini menuntut ilmu di sana. Mereka menggantungkan cita-citanya di sekolah yang hanya beralaskan tanah ini.

“Kalau dulu waktu sekolah masih jauh, dalam sepekan anak-anak cuma masuk dua atau tiga hari. Tapi sekarang setiap hari mereka bisa sekolah, gratis pula,” ungkap Kamal. []


Bagikan