Perjuangan Lisnawati Lawan Tumor Payudara dan Hidupi Sang Buah Hati

Selama setahun mengidap tumor payudara, Lisnawati mengaku kesulitan bernapas. Apalagi, tumor berada di payudara kiri, berdekatan dengan jantung.

Tumor payudara
Lisnawati saat menerima bantuan biaya hidup dan biaya berobat. (ACTNews/Gusti Fikri)

BANJARMASIN – Menjadi orang tua tunggal bukanlah keinginan Lisnawati (42). Belum lagi, di tengah perjuangan menafkahi sang buah hati yang masih duduk di bangku sekolah, ia divonis mengidap tumor payudara.  

Tumornya semakin membesar dan membatasi aktivitas. Tumor sudah terdeteksi pada tubuh Lisnawati sejak setahun lalu.

“Diagnosa sudah setahun lalu, bersamaan dengan suami meninggal. Awal mulanya kecil dan tidak terasa sakit. Jadi tidak curiga,” cerita Lisnawati saat dikunjungi di rumahnya di Jalan Veteran, Kelurahan Sungai Lulut, Kota Banjarmasin, Rabu (5/1/2022) sore.

Saat dibawa ke puskesmas terdekat untuk pemeriksaan, Lisnawati pun dirujuk ke salah satu RS swasta di Kota Banjarmasin. “Saat itu ukurannya sekitar 12 cm. Saat dirujuk kembali ke RSUD Ulin Banjarmasin sudah bertambah besar lagi menjadi 12,38 cm,” imbuh Lisnawati.

Selama setahun mengidap tumor payudara, Lisnawati mengaku kesulitan bernapas. Apalagi, tumor berada di payudara kiri, berdekatan dengan jantung. Ia pun sering kali kelelahan saat bekerja sebagai pengemas mentega, pekerjaan yang ia lakoni selama tiga tahun terakhir.

“Kadang-kadang, karena ada nyeri itu saya putuskan untuk istirahat. Sementara kegiatan mencuci pakaian pun tidak bisa terlalu banyak. Kalau terlalu banyak, di punggung ini sakit-sakit semua,” ucapnya sembari menunjukkan bagian tubuhnya yang nyeri.

Kendati mengidap tumor payudara yang semakin membesar, ia tetap semangat merawat putri semata wayangnya yang berusia 8 tahun. Ikhtiar dan doa pun tak pernah terputus.

“Terima kasih kepada Aksi Cepat Tanggap Kalimantan Selatan yang mau berkunjung ke rumah saya yang sederhana ini dan menyampaikan amanah dari para dermawan. Semoga bantuan ini memberikan manfaat untuk saya, terutama membeli obat pereda nyeri tumor,” tandasnya.

Sementara itu, Tim Program Aksi Cepat Tanggap Kalimantan Selatan, Ratih Ayu, menambahkan, Lisnawati mengalami kesulitan untuk membeli obat untuk meredakan nyeri tumor. Apalagi, dari penghasilan mengemas mentega, Lisnawati hanya mendapatkan upah Rp 10 ribu saja.

“Insya Allah, tim Aksi Cepat Tanggap Kalimantan Selatan berikhtiar untuk membersamai Ibu Lisnawati,” ucap Ratih. Dikatakan Ratih, bantuan yang sangat mendesak untuk Ibu Lisnawati yaitu biaya pembelian obat pereda nyeri, bantuan biaya hidup dan operasional untuk operasi tumor payudara. Operasi sendiri akan dilaksanakan pada November 2022 mendatang.

“Bagi masyarakat yang ingin membantu Ibu Lisnawati, dapat menitipkan sedekah terbaiknya melalui Aksi Cepat Tanggap Kalimantan Selatan, atau melalui indonesiadermawan.id. Insya Allah, amanah dari masyarakat yang ingin membantu perjuangan Ibu Lisnawati akan segera kami sampaikan kepada beliau,” tuntas Ratih.[]