Perjuangan Pelajar di Pelosok Cirebon Raya Demi Gapai Mimpi Sebagai Guru

Jika impian Padi (13) pupus, ia barangkali akan bekerja sebagai buruh bangunan sebagaimana teman-teman sebayanya. Tetapi ia tidak menyerah untuk bersekolah, dan menggapai mimpinya untuk menjadi seorang guru.

bantuan pendidikan cirebon
Setiap hari, Padi mengayuh sepeda tua dengan jarak tempuh sekitar 30 menit untuk sampai ke sekolah. (ACTNews/Dyah Retno)

ACTNews, KABUPATEN CIREBON – Karena kondisi ekonomi yang belum memadai, beberapa anak di Kampung Cihoe Tengah, Desa Ciledug Wetan, Kecamatan Ciledug, Kabupaten Cirebon, berhenti bersekolah. Mereka menyimpan mimpi, dan langsung bekerja menjadi buruh bangunan.

Padi (13) bisa jadi salah satu dari mereka. Tetapi sampai saat ini, bocah yang masih duduk di bangku kelas 2 SMP di kampung tersebut, masih terus berjuang sekuat yang ia mampu untuk mengejar mimpinya yang mulia.

“Ada beberapa teman yang putus sekolah, terus sekarang jadi tukang bangunan. Kalau saya insyaallah, mau lanjutin sekolah biar jadi guru. Tapi kalau enggak bisa lanjut ya mungkin jadi tukang (bangunan) juga,” ungkap Padi ditemui pada Selasa (21/6/2022).

Untuk mencapai sekolah, setiap hari Padi mesti mengayuh sepeda tuanya dengan waktu tempuh sekitar 30 menit dari tempat ia tinggal. Dengan semangat belajar yang tinggi itu, ia sempat menyabet peringkat wahid di kelas.


Kerja keras Padi dalam belajar, dibarengi dengan prestasi yang ia raih. (ACTNews/Dyah Retno)

Selepas sekolah, ia akan membantu pekerjaan rumah. Rumah berdinding anyaman bambu yang atapnya sering bocor itu, menjadi tempat Padi berlindung. Setelah membereskan rumah, sebagaimana anak-anak lain juga, Padi senang bermain. Terutama permainan bola. Tetapi ia pun tidak lupa untuk salat dan mengaji. “Mau kirim doa buat Ibu,” terangnya.

Satu-satunya orang yang menemani ia di rumah kini memang hanya ayah. Sang ibu telah berpulang terlebih dahulu ketika melahirkan adik Padi, dan adiknya pun ikut berpulang saat itu.

Ayah Padi bekerja apapun demi memenuhi kebutuhan hidup, dari tukang bagunan hingga berkebun ia lakukan. Rata-rata upah yang ia peroleh Rp 60 ribu per hari, dan belum dapat mencukupi kebutuhan. Jangankan untuk buku tulis, tas atau sepatu sekolah Padi, karena seringkali penghasilan itu hanya cukup untuk menghadirkan sepiring nasi.


Aksi Cepat Tanggap (ACT) Cirebon yang berkunjung pada hari itu, turut mengajak para dermawan untuk menjaga mimpi Padi untuk menjadi guru agar tidak sampai pupus di tengah jalan.

“Insyaallah Tim ACT Cirebon berikhtiar untuk memenuhi kebutuhan pendidikan seperti buku, tas, sepatu serta kebutuhan lain untuk pelajar prasejahtera di pelosok Cirebon, salah satunya Padi. Kepedulian tersebut dapat kita salurkan melalui laman Indonesia Dermawan. Semoga ikhtiar ini dapat memudahkan mereka dalam menggapai mimpi,” kata Ade Rully Sebagai Kepala Cabang ACT Cirebon. []