Perjuangan Pengungsi Palestina Bertahan dalam Krisis Lebanon

Krisis parah yang terjadi di Lebanon, turut berdampak ke 250 ribu pengungsi Palestina yang telah lama bernaung di sana. Kini, mereka berjuang untuk bertahan dalam krisis yang membuat segala harga komoditas melambung tinggi.

pengungsi palestina di lebanon
Pengungsi Palestina yang tinggal di Kamp Shatila, Beirut, Lebanon. (MEE/Ahmad Laila)

ACTNews, BEIRUT – Krisis yang dihadapi Lebanon menjadi semakin parah dari waktu ke waktu. Bank Dunia menyatakan bahwa Lebanon mengalami salah satu krisis ekonomi terburuk di dunia sejak pertengahan abad ke-19. Nilai mata uang lokalnya, Pound Lebanon (PLB) telah anjlok beberapa tahun terakhir, dan inflasi yang terjadi telah mencapai titik tertinggi sepanjang masa.

Krisis ini pun bukan hanya berdampak ke masyarakat Lebanon, namun juga pada para pengungsi di sana. Diperkirakan, ada lebih dari 250 ribu warga Palestina yang tinggal di Lebanon sebagai pengungsi jangka panjang. Mereka termasuk di antara orang-orang yang terkena dampak terburuk dalam krisis di negara yang terletak di pinggir laut Mediterania tersebut.

Cerita perjuangan para pengungsi Palestina di Lebanon, datang dari salah satu kamp pengungsian di selatan Beirut, Shatila. Didirikan sejak tahun 1949, kamp Shatila adalah rumah bagi sekitar 22.000 pengungsi Palestina. Mereka sudah hidup dalam kondisi yang mengerikan, bahkan sebelum krisis parah yang beberapa bulan terakhir ini terjadi.

“Jika saya menggambarkan kondisi di kamp dalam satu kata, saya akan mengatakan 'kesengsaraan'. Semua orang sengsara. Saya turut prihatin khususnya kepada kepada anak-anak pengungsi di sini, karena mereka belum diberi kesempatan untuk berhasil dan berkembang di negara ini," kata Aida, salah satu pengungsi Palestina yang tingggal di Kamp Shatila.

Selain krisis ekonomi, Lebanon juga tengah menghadapi bulan-bulan kekurangan bahan bakar parah. Hal ini terjadi karena bank sentral Lebanon telah menghapus subsidi bahan bakarnya pada bulan lalu. Hal ini menyebabkan banyak pengungsi yang kehilangan akses listrik karena tidak memiliki biaya untuk membeli bahan bakar guna menghidupkan generator.

Para pengungsi menyebut, biasanya dibutuhkan biaya 75 ribu PLB (Rp 712 ribu) untuk menghidupkan generator ke sejumlah kamp. Namun, saat ini harganya melonjak hampur 250 ribu PLB, atau sekitar Rp 11 juta. Menyebabkan kondisi kamp sangat gelap karena tidak ada listrik.

Krisis juga menyebabkan pasokan air Lebanon berada di ambang kehancuran. Kesulitan untuk memperoleh air minum yang bersih dan aman telah menjadi salah satu ancaman terbesar bagi kesehatan para pengungsi Palestina.

Dengan berlinang air mata, salah satu pengungsi, Laila menggambarkan bagaimana dampak krisis ekonomi sebanding dengan dampak perang. Setelah suaminya meninggal enam tahun lalu, dia mati-matian mencari pekerjaan. Hingga akhirnya ia diterima bekerja sebagai juru masak meski pendapatannya sangat kecil.

“Meskipun saya hanya dibayar seadanya, saya melakukan yang terbaik untuk mengelola dan mencoba menabung untuk membeli obat untuk anak-anak saya ketika mereka membutuhkannya.”

Para pengungsi Palestina di Shatila saat ini berada dalam siklus krisis yang tidak pernah berakhir. Banyak dari mereka masih belum pulih dari luka fisik dan psikis dari konflik bersenjata yang pernah merek terima. Kini, mereka hidup serba kekurangan dan sangat membutuhkan bantuan kemanusiaan. []