Perjuangan Qasyim Berdakwah Melewati Hutan Meratus di Kalimantan

Antusiasme masyarakat belajar agama Islam menjadi semangat Ustaz Qasyim dalam berdakwah di Desa Tilahan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Meski harus melewati hutan dan kegelapan, ia tetap istikamah berdakwah.

pondok quran arraudhah
Pondok Al-Qur’an Ar-Raudhah di Tilahan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah. (ACTNews)

ACTNews, HULU SUNGAI TENGAH – Pegunungan Meratus merupakan sebuah kawasan yang membelah Provinsi Kalimantan Selatan menjadi dua. Ia membentang dengan melewati hampir semua kabupaten di Kalimantan Selatan, hingga ke perbatasan dengan provinsi Kalimantan Timur. Hutan dan tebing di kiri kanan akan menemani para pengendara sepanjang perjalanan. 

Desa Tilahan, Kecamatan Hantakan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan berada di sebelah timur Barabai yang menjadi pusat Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Untuk mencapai desa tersebut, dibutuhkan waktu tempuh 1,5 jam dari Barabai dengan kecepatan kendaraan maksimal 50 km per jam.

Menurut Rizki Husara dari Tim Program ACT Kalsel, jalan menuju Desa Tilahan membelah hutan yang merupakan bagian dari Pegunungan Meratus. Tidak ada penerang jalan sehingga perlu kehati-hatian dan kewaspadaan saat berkendara di malam hari. “Kanan kiri hutan, tebing dan jurang harus hati-hati dan pelan-pelan dalam berkendara,” katanya, Ahad (6/62021).

Setelah berjalan 1,5 jam, lanjut Rizki, kita tiba di Desa Tilahan, tempat di mana Ustaz Qasyim dan adiknya Ustazah Muawiyah mengajar agama. Di sebuah bangunan panggung yang berdinding bambu dan berfondasikan kayu yang diambil dari hutan di sekitarnya, setiap hari ramai dengan anak-anak dan warga yang belajar tentang agama. 

Bangunan tersebut diberi nama Pondok Al-Qur’an Ar-Raudhah. Ustazah Muawiyah mengajar anak-anak mengaji di siang hari dan Ustaz Qasyim mengajar para orang tua di malam harinya. “Setiap hari saya harus menembus kegelapan jalanan dan hutan, karena saya tidak tinggal di sini (Tilahan),” kata pendiri Pondok Al-Qur’an Ar-Raudhah Ustaz Qasyim. 

Setiap hari, Ustaz Qasyim menjadi guru di salah satu sekolah swasta tingkat pertama di Barabai. Usai mengajar di siang hari, sore harinya ia berangkat menuju Tilahan untuk mengajar agama. “Muslim Tilahan sangat antusias belajar agama meski minoritas. Antusiasme itu yang membuat saya semangat untuk membersamai mereka,” ungkapnya. 

Ustaz Qasyim menjelaskan, selain untuk mengaji, bangunan yang berdiri sejak tahun 2007 itu juga digunakan sebagai musala bagi warga Tilahan. Kumandang azan selalu dilantunkan meski tanpa pengeras suara. Anak-anak selalu antusias bergegas mendatangi Pondok Al-Qur’an Ar-Raudhah saat azan sudah dikumandangkan. “Pondok ini belum memiliki toilet dan tempat wudu, sehingga anak-anak berwudu di sungai atau di rumah masing-masing,” katanya.

Mendukung perjuangan dakwah Qasyim dan sang adik, Global Zakat-ACT memberikan bantuan berupa biaya hidup pada Ahad (6/62021). Atas dukungan ini, Ustaz Qasyim mengucapkan terima kasih.[]