Perjuangan Rival Mengobati Kelainan Ginjal di Usia Muda

Usia Rival masih 14 tahun, tapi perjuangan hidupnya tak mudah. Di usia belia, ia harus menjalani perawatan akibat kelainan ginjal. Berbagai pantangan kegiatan dan konsumsi pun dijalaninya.

Perjuangan Rival Mengobati Kelainan Ginjal di Usia Muda' photo
Rival sedang menunjukkan obat yang setiap hari ia minum untuk mengobati kelainan ginjalnya. Dalam sehari, ada belasan obat yang harus dikonsumsi remaja 14 tahun ini. (ACTNews/Eko Ramdani)

ACTNews, DEPOK – Tak banyak kegiatan yang Rival Ramadhan (14) lakukan pada Senin (28/9). Ditemani sang ibu, remaja yang masih duduk di kelas 3 sekolah menengah pertama ini hanya duduk-duduk saja di ruang depan rumah kontrakan yang ditinggali bersama keluarganya di Curug, Kecamatan Cimanggis, Depok. Televisi serta gawai menjadi hiburan Rival melewati hari-harinya. Terhitung sejak Juni 2020, Rival mengurangi berbagai aktivitas karena terdiagnosis mengalami kelainan ginjal yang berdampak pada kesehatannya.

Di dada bagian kanan remaja kelas 9 SMP Negeri 11 Depok ini terdapat lubang yang digunakan untuk mencuci darah secara rutin dua kali dalam sepekan. Rival mendapat jadwal Selasa dan Jumat untuk mencuci darah di RS Cipto Mangunkusumo. Sedangkan pemeriksaan di poli umum sebulan sekali untuk memastikan efek dari gangguan ginjalnya tak menyebar ke organ lain.

“Ini penyakit lama memang, tapi baru kambuh lagi dan parah efeknya dari Juni ini (2020),” jelas Kastini (49), ibu Rival yang sehari-hari menjaga anak ketiganya yang saat ini sedang mengalami kelainan ginjal.

Riwayat ginjal Rival mengalami kelainan sebenarnya sudah terjadi sejak beberapa tahun lalu, tepatnya ketika anak ketiga dari pasangan Raskim (58) dan Kastini ini masih berusia 9 tahun. Saat itu Rival menjalani pengobatan tanpa cuci darah dan berbuah manis dengan kesembuhan pada pengobatan yang telah masuk usia lebih dari satu tahun. Sayang, di usia menjelang ke-15 pada Oktober nanti, penyakit Rival kambuh. Ia harus menjalani cuci darah secara rutin dengan berbagai pantangan dalam konsumsi.

Untuk konsumsi air, Rival hanya diberi jatah satu setengah botol air mineral ukuran tanggung, atau sekitar 400-500 mililiter per hari, tak boleh lebih. Remaja itu pun tak boleh melakukan aktivitas yang bisa menimbulkan rasa lelah berlebih. Rival pun harus rutin menjalani cuci darah dan mengonsumsi obat dalam bentuk pil yang dalam sehari bisa mencapai belasan butir.

“Harapannya bisa sembuh total lewat pengobatan, karena untuk dapat transplatasi ginjal susah banget, sama mahal,” ungkap Kastini.

Ekonomi lemah

Sejak mulai melakukan pengobatan pada Juni 2020 lalu, Rival menggunakan jaminan kesehatan dari pemerintah. Menjalani perawatan di RSCM dengan adanya jaminan ini setidaknya bisa mengurangi beban pengobatan. Namun, jaminan tersebut tak termasuk biaya transportasi, konsumsi hingga akomodasi jika diperlukan selama melakukan perawatan. Sedangkan, untuk ketiga biaya tersebut jumlahnya tak kalah banyak, apalagi kondisi ekonomi orang tua Rival yang masih prasejahtera.

Dalam sekali pengobatan, Rival harus mengeluarkan biaya setidaknya Rp300 ribu untuk transportasi. Uang tersebut dikeluarkan secara rutin dua kali dalam sepekan. Uang yang dikeluarkan berasal dari kerja keras Rakim, ayah Rival, yang bekerja sebagai penjaja gorengan. Tak besar pendapatan Raskim dalam sehari, apalagi di tengah pandemi Covid-19 seperti sekarang ini. Akan tetapi, baginya pengobatan anak menjadi prioritas. Rupiah demi rupiah pun ia sisihkan untuk kesembuhan Rival.

Melihat beratnya sakit yang Rival hadapi di tengah kondisi ekonomi keluarga yang masih prasejahtera, Global Zakat-ACT saat ini sedang beriktiar untuk memberikan yang terbaik. Beberapa waktu lalu, sejumlah uang satunan telah diserahkan ke keluarga Rival untuk mendukung pengobatan. Nantinya dalam waktu dekat direncakan akan ada pendampingan dari program Mobile Social Rescue (MSR) untuk mendukung kesembuhan Rival.

“Saat ini tim MSR berencana akan menggalang dana untuk membantu proses kesembuhan Rival. Walau biaya pengobatan ditanggung pemerintah, namun masih banyak biaya lain yang belum terkover seperti transportasi yang mahal, konsumsi hingga akomodasi jika diperlukan. Belum lagi ada beberapa obat yang tak didukung jaminan kesehatan yang harga per botolnya mencapai 400 ribu (rupiah),” jelas Dayani dari tim MSR-Global Zakat, Senin (28/9).[]

Bagikan

Terpopuler