Perjuangan Riyandi untuk Sembuh dari Osteosarcoma

Kanker tulang telah menjalar dari lengan kanan hingga dada Riyandi (6), anak laki-laki asal Kalimantan Selatan. Ia terancam kehilangan tangannya karena amputasi. Walau begitu, Riyandi tetap semangat menjalani pengobatan, didampingi kedua orang tuanya.

Perjuangan Riyandi untuk Sembuh dari Osteosarcoma' photo

ACTNews, BANJARMASIN  Lengan hingga dada sebelah kanan Muhammad Riyandi (6) kini keadaannya semakin membesar. Dokter memvonis Riandi mengalami osteosarcoma atau kanker tulang yang banyak menyerang anak di usia 20 tahun ke bawah. Kanker telah bersarang di tubuh bocah 6 tahun itu sejak satu setengah tahun terakhir.

Tepatnya 12 Januari 2017, Riyandi mengalami kecelakaan bermotor bersama ibunya, Sari Rahayu, sepulang sekolah. Tangan kanannya mengalami biru memar serta kepala terluka akibat terbentur tanah. Akan tetapi memar dan luka itu dapat sembuh walau hanya perawatan di rumah.

Namun, di bulan ketiga pascakecelakaan, lengan kanan Riyandi kembali merasakan sakit. Orang tua membawa anak keduanya itu ke puskesmas Telaga Langsat, Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Akan tetapi, pihak puskesmas merujuk Riyandi ke rumah sakit guna melakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Pada pertengahan April 2017, Riyandi melakukan rontgen serta pemindaian kesehatan. Hasilnya, Riyandi dinyatakan mengalami osteosarcoma atau lebih dikenal dengan kanker tulang.  Sejak saat itu, anak kedua dari dua bersaudara ini rutin menjalani pengobatan serta kemoterapi.


Perawatan dilakukan Rumah Sakit Umum Daerah Ulin Banjarmasih. Jaraknya dapat ditempuh dalam waktu lebih kurang empat jam dari tempat tinggal Riyandi beserta orang tuanya di Kandangan. “Pengobatan bantu jaminan kesehatan dari pemerintah, tapi di luar itu seperti transportasi dan makan keluarga kami di Bajarmasih tidak. Ongkos dari Kandangan ke RSUD Ulin per orang 50 ribu rupiah sekali jalan,” tutur Supiannor, ayah Riyandi, Jumat (2/8).

Walau dibantu jaminan kesehatan pemerintah, orang tua Riyandi tetap harus mengeluarkan uang guna transportasi. Hal ini yang membuat biaya penyembuhan anak laki-laki pasangan Supiannor dan Sari Rahayu ini cukup tinggi. Supiannor sampai harus rela menjual berbagai aset keluarganya demi penyembuhan Riyandi. Kini, ia bekerja sebagai buruh tani dengan penghasilan yang pas-pasan.

Supiannor mengatakan, saran dokter untuk kesembuhan anaknya ialah dengan amputasi tangan. Akan tetapi kanker yang telah menyebar hingga dada membuat penyembuhan perlu tindakan khusus. “Harus mematikan sel kanker yang ada di badian dada dahulu , baru bisa untuk dilakukan amputasi,” ungkapnya kepada Aksi Cepat Tanggap (ACT), Jumat (2/8).

Jumat itu, ACT mulai melakukan asesmen awal kepada Riyandi. Budi Rahman dari Tim Program ACT Kalimantan Selatan menyebut, ACT bakal melakukan pendampingan medis melalui program Mobile Social Rescue. “Untuk asesmen kami menyerahkan uang tunai,” katanya.

Untuk selanjutnya, ACT Kalsel telah menyiapkan penggalangan dana secara daring yang akan dilakukan melalui Kitabisa.com. Donasi yang terkumpul akan digunakan untuk proses kesembuhan Riyandi. Budi menambahkan, jika ada dana yang lebih dari pengobatan, ACT akan menggunakannya untuk perbaikan ekonomi Riyandi beserta orang tuanya.[]

Bagikan