Perjuangan Sepenuh Jiwa Raga yang Tak Pernah Padam di Palestina

Dunia menyatakan protes atas rencana negara adidaya yang merencanakan Abu Dhib sebagai ibu kota Palestina. Ribuan orang pun melayangkan protes di Gaza dan Yerusalem, Kamis (29/1). Kondisi ini diklaim memuncak pada Jumat esok sebagai bagian dari aksi Great Return March.

Perjuangan Sepenuh Jiwa Raga yang Tak Pernah Padam di Palestina' photo
Majed Abu Salama, jurnalis dan penggerak hak asasi manusia asal Gaza terluka saat menanam pohon zaitun di perbatasan Gaza-Israel. Kaki Majed ditembak oleh militer Israel saat ia melangsungkan aksi damai menanam pohon sebagai bentuk protes. (Al Jazeera/Yaser Murtaja)

ACTNews, GAZA, YERUSALEM, HAIFA – Ribuan orang menyatakan protes di jalur Gaza, Kamis (29/1) waktu setempat, sebagaimana diberitakan International East Media Monitor. Massa menyuarakan hak dan prinsip Palestina. Mereka menolak pengumuman yang disampaikan negara adidaya. Menurut para demonstran, perjanjian itu melanggar hak dan prinsip Palestina, melanggar semua hukum internasional. Utamanya hak atas Yerusalem, di mana saat ini Yerusalem diakui sebagai salah satu wilayah okupasi Israel.

Selain di Gaza, unjuk rasa juga terjadi di Haifa. Pengunjuk rasa membawa spanduk, antara lain bertuliskan protes, “(Perjanjian) Kesepakatan Abad Ini tidak akan disetujui di Haifa”.

Sementara itu, sejumlah pengunjuk rasa terlihat memadati jalan di Kota Ramallah, Tulkarem, Jenin, dan Bethlehem di Tepi Barat. Mereka menyuarakan protes atas perjanjian yang dibuat di Washington. Masjid-masjid di Palestina pun menyuarakan ayat-ayat Alquran melalui pengeras suara sebagai bagian dari aksi.

Wacana menjadikan Abu Dis sebagai ibu kota Palestina sangat ditolak warga Palestina. Wilayah yang sebenarnya hanya berjarak sekitar lima kilometer dari Yerusalem itu dianggap penduduk Palestina tidak representatif sebagai ibu kota.

“Abu Dis tidak akan pernah menjadi Yerusalem. Abu Dis adalah Abu Dis, Yerusalem adalah Yerusalem,” ungkap Yahya Ayad (53) kepada The Guardians, seperti yang diterbitkan pada Rabu (28/1) sore.

Lebih lanjut The Guardian menulis, tidak seorang pun berpikir banyak tentang kota Abu Dis, salah satu kota di Palestina yang berbukit. Dulu, keluarga-keluarga dari Abu Dis akan berjalan melintasi lembah ke Yerusalem untuk menjual domba, kambing, dan keju. Saat ini, tembok setinggi delapan meter zig-zag dibangun militer Israel.

Mitra Aksi Cepat Tanggap (ACT) melaporkan, demonstrasi di Gaza dan Yerusalem telah berlangsung sejak Rabu (27/1). “Ribuan rakyat Palestina berunjuk rasa di Yerusalem, Tepi Barat, dan Gaza. Israel menyerang pengunjuk rasa Palestina dengan peluru dan menyerang orang-orang yang berada di perbatasan timur Gaza dengan pesawat udara. Sebanyak tiga puluh orang terluka hari ini, situasi semakin memanas,” terang Andi Noor Faradiba dari Tim Global Humanity Response (GHR) – ACT.[]


Bagikan