Perjuangan Sopiah Menjadi Orang Tua Tunggal

Upah Sopiah dari menjadi buruh cuci hanya Rp50 ribu per hari. Untuk menutup kekurangan pengeluaran, tak jarang ia berhutang atau meminta bantuan.

sopiah menerima paket
Sopiah saat menerima bantuan paket pangan dari Global Zakat-ACT. (ACTNews).

ACTNews, TANGERANG — Menjadi orang tua tunggal dalam keluarga bukanlah perkara mudah. Selain mengurus anak, orang tua tunggal juga harus mencari nafkah untuk mencukupi kebutuhan hidup. Tak jarang ia harus meninggalkan anak sampai kehilangan momen tumbuh kembangnya. 

Hal itulah yang dialami Sopiah (40), warga Desa Pagedangan Udik, Kecamatan Kronjo, Kabupaten Tangerang. Ia menjadi orang tua tunggal bagi putri semata wayangnya yang kini berumur 7 tahun. Sejak ditinggal suami wafat tiga tahun lalu, Sopiah mencari nafkah dengan bekerja menjadi buruh cuci. 

“Berangkat jam 06.00 pagi (WIB) pulang sekitar jam 10.00 (WIB), saya berangkat anak masih tidur pulang dia kadang tidur siang. Nanti sore berangkat lagi jam 15.00 (WIB) pulang-pulang jam 18.00 (WIB), jadi siang saya enggak banyak waktu sama anak. Dia saya titipkan ke mertua,” ujar Sopiah saat diwawancarai ACTNews, Sabtu (8/5/2021). 

Bayaran menjadi buruh cuci tidaklah banyak. Sopiah menerima Rp50 ribu dalam sehari. Uang hasil jerih payahnya ia gunakan untuk makan dan biaya pendidikan anaknya yang saat ini sudah masuk jenjang sekolah dasar. Jika pengeluaran Sopiah lebih besar, ia terpaksa berutang atau meminta bantuan ke keluarga. 

Sopiah saat ini tinggal bersama mertuanya di rumah berdinding bilik. Meski sederhana, ia bersyukur masih diizinkan tinggal di rumah tersebut. “Kalau enggak boleh, enggak tahu saya sama anak tinggal di mana. Meski sederhana, jadi tetap bersyukur,” jelasnya.