Perjuangan Tim Medis Selamatkan Warga Palestina dari Serangan Israel

Bukan hal mudah bagi tim medis Palestina untuk menjalankan tugas dalam memberikan perawatan untuk warga Palestina yang terluka. Sebab, kerap kali mereka dihalang-halangi untuk masuk ke area penyelamatan. Bahkan, tak jarang mereka yang justru menjadi target dari serangan zionis Israel.

tembakan ke ambulans palestina
Bekas tembakan dari angkatan bersenjata Israel ke ambulans Palestina. (Aljazeera)

ACTNews, TEPI BARAT – Tim medis Palestina selalu berusaha berada di garis terdepan untuk berjuang menyelamatkan nyawa warganya yang terluka akibat serangan zionis Israel. Namun, bukan hal mudah bagi mereka, karena kerap kali mereka dihalang-halangi untuk masuk ke area penyelamatan. Bahkan, tak jarang mereka yang justru menjadi target dari serangan zionis Israel.

Bassem Sadaqa, salah satu paramedis dari Palang Merah menceritakan, Rabu (1/6/20201), ia hendak memberikan perawatan untuk warga Palestina yang terluka saat berunjuk rasa menentang pendirian pos Israel secara ilegal di tanah mereka di wilayah Niilin, sebelah barat kota Ramallah, Tepi Barat. Ia berencana membawa korban luka tersebut yang jaraknya setengah jam berkendara. Namun, tiba-tiba ambulans yang ia kendarai mendapat tembakan dari angkatan bersenjata Israel di area tersebut.

“Awalnya saya mengira ambulans terkena batu sampai saya melihat lubangnya. Penembakan itu bukan kecelakaan, tentara Israel membidik ambulans saat saya berdiri tepat di dekatnya. Dan itu juga bukan pertama kalinya ambulans yang saya kendarai menjadi sasaran,” ujar Sadaqa seperti dikutip dari Aljazeera.

Penggunaan senjata tanpa terukur oleh angkatan bersenjata Israel, membuat banyak warga Palestina terluka cukup parah. Salah satu dari mereka yang terluka adalah Walikota Niilin, Emad Khawaja, yang ditembak di kaki oleh pasukan Israel.

Saat jumlah korban luka meningkat, ambulans Palestina akan meluncur dengan kecepatan tinggi di sepanjang jalan berliku dan sempit. Melewati bukit dan menuruni lembah, melakukan perjalanan bolak-balik dari Niilin ke Rumah Sakit Ramallah.

“Salah satu masalah lain yang kami hadapi adalah tentara menolak mengizinkan ambulans untuk mendekati mereka yang terluka parah atau menghentikan ambulans yang mencoba mengevakuasi yang terluka ke rumah sakit, bahkan terkadang mengeluarkan pasien kami dari ambulans,” tambah Sadaqa.

Petugas medis lainnya, Abu Latifa (50) menceritakan bahwa ia juga pernah mendapat serangan dari pasukan Israel. “Tulang saya dipatahkan oleh mereka, dan saya ditinggalkan di pinggir jalan oleh tentara Israel sebelum seorang pengendara motor yang lewat membawa saya ke rumah sakit di mana saya tidak sadarkan diri selama dua hari,” kata Abu Latifa.

Namun, meskipun ia telah mendapat serangan yang cukup parah, ayah dari delapan anak tersebut mengaku tidak kapok. Ia merasa pekerjaannya tersebut adalah cara terbaik yang bisa ia lakukan untuk berjuang bersama rakyat Palestina.[]