Perjuangan Ustaz Abas, Dai di Pesisir Karawang

Meski penghasilannya terpuruk Ustaz Ahmad Basuni (Abas) tetap rela mengajar ngaji tanpa dibayar. Ia pun seringkali ceramah naik sepeda dan menumpang ke pengendara yang lewat.

ustaz abas
Ustaz Abas saat menjala ikan di sungai dekat Pantai Putri Karawang pada Selasa (2/11/2021). (ACTNews/M. Ubaidillah)

ACTNews, KARAWANG – Terik matahari di Pantai Putri Karawang, Jawa Barat pada Selasa (2/11/2021) tak menyurutkan niat Ustaz Ahmad Basuni (Abas) turun ke laut untuk menjala ikan. Tangannya begitu cekatan melempar jala ke berbagai arah. 

Ustaz Abas merupakan guru mengaji di Desa Segaran, Kecamatan Batujaya, Kabupaten Karawang. Saban hari, usai asar, Ustaz Abas mengajar sekitar 20 santri. Menjadi guru mengaji sudah dilakukan Ustaz Abas sejak tahun 2000. 

Meski mengajar ngaji setiap hari, Ustaz Abas tidak digaji. Kebutuhan sehari-hari bersumber dari menjala ikan. Seperti yang dia lakukan hari itu.

Meski tidak banyak yang terperangkap, Ustaz Abas terus berusaha melempar jala. Berpindah dari satu titik ke titik yang lain. “Dapat satu-dua ikan, alhamdulillah. Kalau sudah siang, ikan susah didapat,” ujar Ustaz Abas sembari menarik jala. 

Ikan yang didapat lebih banyak berjenis ikan laut dangkal. Jika di laut tidak dapat ikan, Ustaz Abas pindah ke sungai dekat tambak. Meski sebenarnya peluang mendapat ikan di sungai juga lebih kecil.

“Kalau di sungai, harus di titik-titik tertentu. Di bawah jembatan, di dekat pintu air itu tempat ikan ngumpul. Biasanya ikan nila, ikan gabus, ikan bandeng, lele, atau ikan-ikan yang lepas dari tambak,” jelasnya. 

Mencari ikan dengan cara menjala adalah pekerjaan sehari-hari Ustaz Abas. Ia pergi mencari ikan pukul 06.00 pagi dan pulang pukul 13.00. Penghasilannya tidak menentu. Paling banyak mendapat lima kilogram ikan dan dijual seharga Rp50 ribu. “Ini kotor. Bensin dan makan bisa Rp30 ribu,” ungkap bapak lima anak ini. 

Jarak antara rumah Ustaz Abas dengan laut tempat menjala sekitar tujuh kilometer. Ongkos berangkat menjala seringkali hasil berutang. Jika tidak ada ikan yang berhasil ditangkap, maka utang tidak bisa langsung dibayar sepulang menjala. 

“Saya malu jika pulang tidak bawa ikan. Utang tidak bisa dibayar, istri dan anak-anak juga tidak dikasih uang. Padahal saya sudah janji,  kalau dapat ikan, utang akan langsung dibayar,” aku Ustaz Abas dengan nada terbata-bata dan mata berkaca-kaca.


Ustaz Abas saat diwawancarai ACTNews. (ACTNews/M. Ubaidillah)

Jika tidak mendapat ikan, Ustaz Abas dan keluarga makan seadanya. “Sampai sekarang utang masih ada. Nyari ikan juga lagi susah, cuacanya tidak menentu. Jadi utang dulu ke warung (buat makan),” ucapnya. 

Keluarganya juga mendapat pemasukan dari warung kecil yang dikelola sang istri lima bulan terakhir. Sesekali, ia mendapat apresiasi undangan ceramah, dan menjadi qori. 

“Kalau diundang ceramah naik sepeda, sekarang sepeda sudah dijual. Karena jemaah malu, masa ustaznya naik sepeda tapi jamaahnya naik motor. Untuk menghormati mereka, saya tidak pakai sepeda. Eh bingung juga berangkat naik apa, akhirnya menumpang sama pengendara searah (ke tempat pengajian) yang lewat atau minta jemput,” ujarnya.


Ustaz Abas saat salat duhur di tepi Pantai Putri. (ACTNews/M. Ubaidillah)

Ustaz Abas berharap, dapat memiliki sepeda motor agar nanti jika mendapat undangan ceramah tidak perlu menumpang. Kendaraan itu juga bisa ia pakai ke laut saat memancing ikan. “Saya yakin Allah memberikan kemudahan setelah kesulitan-kesulitan ini,” pungkasnya.[]