Perkebunan Odot, Sumber Nafkah Utama Petani LTW Tasikmalaya

Untuk memenuhi pakan ternak harian di Lumbung Ternak Wakaf (LTW) Tasikmalaya, Global Wakaf membuat sendiri pengolahan dan pembibitan pakan dari perkebunan odot. Warga sekitar pun diberdayakan untuk menjalankan sistem pengelolaan perkebunan odot dan pakan ternak ini.

Perkebunan Odot, Sumber Nafkah Utama Petani LTW Tasikmalaya' photo

ACTNews, TASIKMALAYA - Terik matahari memanasi punggung perbukitan yang ada di Desa Bojongsari siang itu. Namun, sekumpulan ibu tidak terpengaruh oleh sengatan matahari dan terus mencabuti rumput liar. Sementara itu, bapak-bapak di perbukitan sebelahnya sibuk memotong rumput odot dengan arit di tangan. Odot-odot tersebut nantinya akan menjadi pakan ternak untuk Lumbung Ternak Wakaf (LTW) Desa Cintabodas, yang masih satu kecamatan dengan desa tersebut.
Darus adalah salah satu yang sedang mengarit rumput-rumput itu. Bersama lima orang lainnya, Darus sehari-harinya memang bekerja menyabit rumput odot di kebun yang dikelola LTW binaan Global Wakaf. Seharinya, ia bisa mendapat tidak kurang dari 50 karung rumput odot untuk pakan ternak di LTW Tasikmalaya, yang biasa menyuplai kebutuhan pekurban Global Qurban tiap tahunnya.

“Kalau di satu tempat seperti ini kita bisa dapat 50 karung. Tapi kan kebun odot ini tersebar di beberapa tempat, jadi ada juga yang bekerja di tempat-tempat lain. Kalau sehari kita total di semua tempat itu, kita bisa dapat sekitar 380 karung odot untuk pakan ternak,” terang Darus, Selasa (30/7).
Selain menyabit rumput, Darus dan teman-temannya juga terkadang mengairi lahan odot pada pagi dan sore hari dari Sumur Wakaf yang juga dikelola Global Wakaf.


Pekerjaan ini membuat mereka sibuk dari pukul 8 pagi hingga pukul 3 sore. Meski begitu, mereka tetap merasa senang karena adanya pekerjaan ini. Nurman salah satunya, yang kini merasa memiliki penghasilan dari adanya perkebunan rumput odot.
“Kalau tidak bekerja di sini, biasanya saya serabutan atau malah menganggur. Terbantu sekali lah sekarang. Dengan adanya kebun odot ini jadi saya ada penghasilan juga dari sini,” kata Nurman.
Rosman selaku pengelola LTW Tasikmalaya mengatakan, orang-orang yang bekerja di perkebunan odot mendapat penghasilan Rp 200 per kilogramnya. Sementara, kebutuhan LTW sendiri untuk rumput odot bisa menyerap hingga di atas 12 ton odot dalam satu harinya.
“Dikalikan saja sendiri, satu karung itu mereka bisa dapat 27-30 kilogram, sementara sehari bisa sampai 50 karung per kelompoknya. Kan itu lumayan buat masyarakat sehari-harinya yang bekerja di sini,” kata Rosman.
Selain itu juga Rosman membeli juga rumput odot dari kebun masyarakat sendiri. Ia menceritakan kini LTW bisa mengumpulkan tidak kurang dari 5 hektare dari masyarakat sekitar dan membeli dari masyarakat dengan harga lebih tinggi yakni Rp 300 per kilogramnya.

“Karena mereka tanam dan merawat sendiri rumput odotnya, lalu kita beli dari mereka tentu kita hargai lebih tinggi. Kemarin dari Desa Cikuya ada yang punya rumput odot dan dia dapat hasil sekitar 8 juta rupiah dari rumput odot ini,” ujar Rosman.
Untuk perawatannya sendiri, selain disirami setiap pagi, rumput-rumput odot tersebut juga diberikan pupuk setiap tiga kali panen. Hal ini agar rumput odot akan tumbuh kembali secara maksimal setiap satu bulan sekali. Pupuk-pupuk itu sendiri kata Rosman berasal dari olahan kotoran ternak yang ada di LTW.
“Jadi begitulah sistem di LTW ini kita buat terintegrasi agar mudah. Setiap hasil dari LTW ini juga dapat bermanfaat, terutama buat memberdayakan warga sekitar,” kata Rosman. []