Perkuat Ketahanan Pangan Melalui Wakaf

Sebagai ikhtiar menguatkan ketahanan pangan di Indonesia, kini Global Wakaf menghadirkan Lumbung Beras Wakaf (LBW). LBW yang terletak di Kabupaten Blora dapat memproduksi sekitar 10 ton beras dalam satu hari.

Global Wakaf-ACT yakin bahwa kekuatan bangsa yang sebenarnya dimulai dari kebutuhan dasar masyarakat, yaitu pangan. (ACTNews/Muhajir Arif Rahmani)

ACTNews, BLORA - Pangan masih jadi persoalan di Indonesia yang notabene bangsa agraris. Mengutip Global Hunger Index 2019, tingkat kelaparan dan kekurangan gizi di Indonesia masuk dalam kategori serius, yakni di angka 20,1. Angka ini menempatkan Indonesia ada di peringkat 70 dari 117 negara yang menderita kelaparan maupun kekurangan gizi. 

Global Wakaf – ACT mencoba menjawab masalah umat tersebut. Salah satunya melalui program Lumbung Beras Wakaf (LBW), yang baru saja diluncurkan pada Kamis (4/12). LBW hadir untuk memperkuat kekuatan pangan masyarakat Indonesia. Global Wakaf-ACT yakin bahwa kekuatan bangsa yang sebenarnya dimulai dari kebutuhan dasar masyarakat, yaitu pangan.


Beras Dermawan, salah satu beras produksi LBW yang telah siap dalam kemasan. (ACTNews/Muhajir Arif Rahmani)

“Pertahanan utama bangsa ini adalah pangan. Bangsa yang pangannya lemah, maka akan dengan mudah bangsa itu direbut oleh bangsa lain. Maka jangan main-main dengan pangan. Dan pangan utama (di Indonesia) adalah beras,” jelas Ketua Dewan Pembina Ahyudin.

LBW yang terletak di Desa Jipang, Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora, dapat memproduksi setidaknya 10 ton beras per hari. “Kalau satu sif saja, LBW normalnya bisa memproduksi 10 ton dalam satu hari. Tapi rata-rata ada yang lembur hingga 2 sif dalam satu hari. Berarti waktu kerja 16 jam dalam satu hari, LBW bisa memproduksi 20 ton beras. Dalam tiga puluh hari non-stop, bisa menghasilkan 600 ton,” ujar Wahyu Novyan selaku Direktur Program ACT.

Asisten Pemerintahan dan Kesra Kabupaten Blora, Purwadi Setiono, mengapresiasi program LBW. Ia berharap ke depannya, dana-dana wakaf yang dikumpulkan untuk LBW akan semakin berkembang, sehingga ke depannya akan meluas.

“Harapan kami action yang dilaksanakan ini akan terus berkembang. Wakaf yang dilaksanakan ini akan terus merambah. Baik di Indonesia maupun di seluruh dunia,” kata Purwadi.


Kehadiran LBW sendiri merupakan hasil pengelolaan aset wakaf produktif yang diamanahkan wakif kepada Global Wakaf sebagai nazir. Melalui LBW, Global Wakaf-ACT memberdayakan para petani kecil dengan membeli hasil panen mereka dengan harga terbaik. Padi yang dibeli kemudian diolah kembali menjadi beras-beras berkualitas. Sebagian produksi beras kemudian disalurkan untuk masyarakat kembali melalui program-program kemanusiaan yang ada di ACT.

Dalam dua tahun, LBW telah memproduksi sekitar 17.000 ton beras. Sekitar 75% hasilnya telah disebarkan dalam skala domestik, sementara sisanya juga dikirimkan ke luar negeri melalui program kemanusiaan untuk Palestina, Suriah, dan Rohingya. Ahyudin yakin, melalui wakaf dan LBW, kebutuhan pangan masyarakat dapat tertangani dengan baik.

“Jadi kita ingin buktikan bahwa ada kekuatan wakaf sebetulnya sangat besar sekali. Wakaf dapat menjadi instrumen untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat dalam skala yang juga sangat besar sekali,” kata Ahyudin. []