Perlahan Menggerakkan Usaha Rambak Arheni

Sejak pandemi, tiap harinya pendapatan Arheni sebagai produsen kerupuk rambak terus berkurang. Hal ini pun berdampak pada ekonomi keluarganya yang juga ikut menurun.

Perlahan Menggerakkan Usaha Rambak Arheni' photo
Kerupuk rambak produksi Arheni, warga Karanganyar, yang sedang masuk tahap penjemuran. (ACTNews/Lukman)

ACTNews, KARANGANYAR – Hari-hari Arheni Upih Pangesti (26) dihabiskan untuk memproduksi kerupuk rambak. Ibu satu anak warga Desa Sroyo, Kecamatan Jaten, Kabupaten Karanganyar itu mengandalkan produksi kerupuk skala kecilnya itu sebagai pemasukan ekonomi keluarga. Warung-warung di sekitar tempat tinggalnya menjadi etalase produk yang Arheni jual.

Pelataran yang ada di rumah Arheni menjadi tempatnya menjemur kerupuk sebelum digoreng. Tak luas, hal ini yang juga membuat produksinya tak bisa banyak. Di samping itu, modal yang kecil menjadikan Arheni sulit mengembangkan usaha skala kecilnya.

Produksi kerupuk rambak yang Arheni beri merek Cap Kepiting memang tak sebanyak pabrikan besar. Ia membuat kerupuk berbahan dasar kulit itu jumlahnya terbatas. Pemasarannya pun hanya di sekitaran tempat tinggalnya. “Usaha kecil ini sudah dari beberapa tahun lalu, paling pendapatannya hanya puluhan ribu per hari, lumayan tapi buat membantu suami mencari rezeki,” jelas istri dari suami yang bekerja di salah satu perusahaan di Karanganyar, Jumat (3/7).

Namun, keadaan baik tak selalu berpihak pada Arheni dan keluarganya. Sejak Maret lalu penjualan kerupuk rambak Cap Kepiting itu terus merosot. Dampaknya ialah pada ekonomi keluarga Arheni. Uang penjualan yang per bulan bisa dikantongi sampai Rp1,9 juta, kini tak lagi sebesar itu. Ekonomi keluarga juga semakin terguncang setelah sang suami diliburkan sementara waktu dari tempatnya bekerja. Semua itu merupakan dampak dari pandemi Covid-19 yang sedang mewabah di Indonesia, tak terkecuali Karanganyar.

Sejak pandemi, penjualan kerupuk rambak Arheni berkurang drastis. Hal ini disebabkan banyak warung yang biasa menjual kerupuk Cap Kepiting itu tutup. Di tengah berkurangnya pendapatan, pengeluaran uang juga terus terjadi, khususnya untuk kebutuhan sehari-hari serta kebutuhan sekolah anaknya. “Kalau sudah mendesak, ya pakai uang modal buat keperluan sehari-hari,” ungkap Arheni.

Di tengah pandemi sekarang ini, Arheni mengaku membutuhkan modal tambahan agar bisa terus memproduksi kerupuk rambaknya. Ia pun berharap bisa memasarkan produksinya itu ke wilayah yang lebih luas lagi. Untuk itu, permodalan menjadi kepeluan yang mendesak.

Jumat (3/7) lalu, ACT dan tim Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) Karanganyar berkesempatan berkunjung ke kediaman Arheni. Di sana, relawan menyerahkan sedekah modal usaha melalui program Sahabat usaha Mikro Indonesia (Sahabat UMI). “Lewat sedekah modal ini, semoga Bu Arheni bisa mengembangkan usaha skala kecilnya di tengah pandemi,” ujar Munandar, relawan MRI Karanganyar.

Arheni merupakan satu dari ribuan perempuan pelaku usaha skala kecil yang mendapatkan modal tanpa pengembalian dari ACT. Sejak pertama diluncurkan pada awal Juni lalu, Sahabat UMI telah menjangkau 3.769 penerima manfaat yang tersebar di 226 kota/kabupaten. Penyerahan bantuan dilakukan oleh cabang-cabang ACT serta relawan MRI yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Bidang usahanya pun beragam, mulai dari agribisnis, pakaian, kerajinan tangan, jasa, kuliner hingga warung kelontong skala kecil.

“Hampir empat ribu penerima manfaat Sahabat UMI yang mendapatkan modal dan jumlah tersebut akan terus bertamah. Ini semua tak lepas dari dukungan dermawan yang telah menyalurkan rezekinya melalui ACT guna mendukung aksi-aksi kemanusiaan,” jelas Koordinator Program Sahabat UMI Wahyu Nur Alim, Rabu (8/7).[]


Bagikan