Perlakuan Berbeda Untuk Warga Palestina dan Israel di Tepi Barat

“Alih-alih membangun rumah, yang ada malah kemungkinan rumah mereka di robohkan,” ujar Said Mukaffiy dari Global Humanity Response Aksi Cepat Tanggap.

Perlakuan Berbeda Untuk Warga Palestina dan Israel di Tepi Barat
(ACTNews)

ACTNews, YERUSALEM – Perlakuan berbeda diterima oleh penduduk dan keturunan Palestina di Tepi Barat. Dibandingkan dengan penduduk Israel mereka mendapat perlakukan berbeda, antara lain soal hak mengemudi, hak bicara, dan hak membangun rumah.

Perumpamaan, Maryam seorang pemegang dengan identitas Palestina, lahir di wilayah C Tepi Barat yang merupakan daerah kendali Israel. Ia ingin berkendara ke Yerusalem, maka Maryam membutuhkan perizinan Israel yang jarang dikeluarkan dan biasanya dibatasi waktu. Saat Maryam telah mendapatkan izin, ia akan menghadapi pemeriksaan yang kemungkinan besar akan mengalami penundaan dan penghinaan.

Kejadian seperti ini kerap terjadi, seperti yang dilaporkan oleh ACT beberapa waktu lalu dimana tentara Israel menembak Osama Mansor yang sedang mengendarai mobilnya bersama istri di Tepi Barat. Penembakan ini tanpa alasan dan terjadi setelah Osama melewati pos pemeriksaan. Osama meninggal dan dikenang sebagai Syahid oleh warga Palestina.

Hal ini akan berbeda jika pengemudi tersebut merupakan warga Yahudi Israel yang lahir di pemukiman Israel. Ia berhak untuk mengemudikan mobil di manapun di Yerusalem.

Kasus lainnya, kembali ke Maryam, jika ia ditangkap ia akan diadili di pengadilan militer Israel dengan tingkat hukuman hampir 100 persen. Bahkan berpotensi untuk ditahan tanpa pengadilan dan dakwaan. Hal ini berbeda dengan warga pemukim Israel, yang memiliki hak proses penuh. Pada hal kebebasan berbicara dan melakukan protes, pemerintah Israel membatasi hak Maryam dan bisa menghadapi hukuman 10 tahun penjara. Akan tetapi jika orang tersebut merupakan warga Israel, mereka bisa bebas berekspresi.  

Warga Yahudi Israel yang lahir di pemukiman Israel juga bisa dengan bebas membangun rumah di Tepi Barat karena Israel telah mengalokasikan petak besar untuk dijadikan pemukiman. Ribuan rumah akan dibangun untuk penduduk Yahudi Israel. Akan tetapi, ini tidak berlaku sama untuk penduduk Palestina. Ia tidak bisa membangun rumah di wilayah tersebut.

“Alih-alih membangun rumah, yang ada malah kemungkinan rumah mereka di robohkan,” ujar Said Mukaffiy dari Global Humanity Response Aksi Cepat Tanggap.[]