Perlengkapan Sekolah Baru Dukung Semangat Anak-Anak Hafiz Quran di Suriah

Bantuan ini diberikan untuk menunjang kondisi pendidikan yang tidak stabil di Idlib akibat konflik yang berlangsung.

Perlengkapan Sekolah Baru Dukung Semangat Anak-Anak Hafiz Quran di Suriah' photo
Kondisi sulit mesti dirasakan siswa-siswi di Suriah. Keluarga para siswa harus tetap menyeimbangkan pengeluaran antara kebutuhan hidup dan sekolah. (ACTNews/Firdaus Guritno)

ACTNews, IDLIB – Bulan Oktober berarti menjadi awal tahun ajaran baru di Suriah. Namun tidak banyak berpengaruh terhadap anak-anak yang ada di pengungsian bagian utara Kota Idlib. Konflik membuat suasana sekolah tidak lagi seramah seharusnya.

“Kondisi pendidikan yang tidak stabil untuk anak-anak di wilayah Idlib disebabkan konflik yang masih berlangsung. Kebanyakan dari mereka bahkan harus bersekolah di bawah naungan pepohonan kebun zaitun karena mengungsi dari wilayah selatan Idlib atau karena sekolah mereka telah rusak akibat konflik,” kata Firdaus Guritno dari tim Global Humanity Response (GHR) –Aksi Cepat Tanggap (ACT) pada Jumat (11/10) ini.

Berkat kolaborasi bersama  Baitul Mal Umat Islam (Bamuis) BNI dan Muslim Tarqiyah Taqwa ( MTT) Foundation, tim GHR-ACT mengajak siswa-siswi di Suriah untuk kembali membawa keceriaan tahun ajaran baru ini. Di sebuah sekolah para hafiz, sebanyak 200 siswa dan siswi mendapatkan paket berupa tas, alat tulis serta pakaian sekolah baru pada Kamis (1/10) silam.

Firdaus berharap bantuan ini dapat menambah semangat para hafiz kecil di Suriah dalam memperjuangkan agama mereka, meskipun berada dalam tekanan konflik. Kondisi sulit mesti mereka rasakan karena keluarganya harus tetap menyeimbangkan antara kebutuhan hidup dan sekolah.


Siswa-siswa hafiz di Suriah sedang mendalami hafalan mereka. (ACTNews/Firdaus Guritno)

“Dengan bantuan alat sekolah ini, harapan kami keluarga pengungsi di Suriah ini dapat tetap memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari lainnya, tanpa harus mengesampingkan kebutuhan sekolah anak mereka,” ujar Firdaus.

Dikatakan Firdaus juga, kesulitan datang dari segi ekonomi mereka yang melemah, terutama setelah konflik melanda. Orang tua para hafiz yang kebanyakan pedagang kini mesti lebih memutar otak untuk memenuhi kebutuhan keluarga. "Hal itu dikarenakan buruknya perputaran ekonomi yang terjadi di daerah konflik," terang Firdaus.

Konflik memang membawa ancaman untuk pendidikan anak-anak di Suriah. Laporan dari Lembaga Dana Anak Persatuan Bangsa-Bangsa (UNICEF) pada tahun 2017 menyatakan, lebih dari satu dari tiga sekolah hancur di Suriah akibat konflik. Atau di antaranya digunakan sebagai tempat tinggal sementara untuk bersama. Hampir sepertiga anak berumur 5-17 tahun juga putus sekolah di seluruh Suriah, sementara 1,35 juta anak-anak Suriah lagi, terancam putus sekolah.[]

Bagikan