Permasalahan Baru Penyintas Bencana Gempa Sulbar

Penyintas bencana gempa di Sulbar tengah bersiap menghadapi permasalahan baru. Mulai dari ancaman berkurangnya kesediaan pangan, virus corona, hingga tidak mampu merenovasi hunian rusak.

Tenda di Dusun Sendana, Desa Botteng Utara, Simboro, Mamuju yang menjadi hunian bagi Baharia dan keluarganyanya serta pengungsi lain, Ahad (24/1/2021). Baharia hingga kini bertahan di pengungsian dan masih belum tahu bagaimana selanjutnya memenuhi kebuhan hidup pascabencana. (ACTNews/Eko Ramdani)

ACTNews, MAMUJU, MAJENE – Sepekan lebih para penyintas gempa Sulbar bertahan di pengungsian. Sebagian sudah ada berani kembali ke rumah, akan tetapi bukan berarti kondisi telah sepenuhnya kondusif dan aman. Tenda terpal masih menjadi pemandangan yang seakan lazim ditemukan, seperti sepanjang jalan penghubung Mamuju dan Majene. Bangunan-bangunan rusak juga belum semuanya dirobohkan untuk dibangun kembali. Suasana memang perlahan kondusif, akan tetapi penyintas masih dan akan dihadapkan oleh permasalahan baru, yaitu pemenuhan kebutuhan hidup yang entah mereka belum tahu dari mana bisa mendapatkannya.

Hal ini lah yang kini menjadi beban pikiran Baharia, seorang ibu tiga anak yang menjadi pengungsi di lapangan Dusun Sendana, Desa Botteng Utara, Kecamatan Simboro, Mamuju. Telah sepekan ia tinggal di dalam satu tenda yang berisikan lebih dari satu keluarga, dan baru pada Sabtu (23/1/2021) ia tinggal hanya bersama keluarganya karena keluarga lain sudah kembali ke rumah masing-masing.

“Tadinya di sini ada empat keluarga, terus berkurang jadi dua, dan baru kemarin satu tenda ini isinya keluarga saya saja. Keluarga lain yang kerusakan rumahnya tidak terlalu parah kembali ke rumah,” ungkapnya, Ahad (24/1/2021).

Ketika ditanyakan akan sampai kapan di pengungsian, warga Dusun Pasada, Desa Botteng Utara ini tidak bisa menjawabnya. Rumahnya mengalami kerusakan berat sehingga tidak bisa dihuni kembali. Biaya renovasi pun belum ia dan suami miliki. Bahkan, selama ini kebutuhan pangannya bergantung pada bantuan kemanusiaan, dan jika bantuan mulai berkurang seiring pihak penanganan bencana mulai berhenti beroperasi di Sulbar, Baharia kebingungan akan mendapatkan makan dari mana, apalagi ketiga anaknya masih kecil dan salah satunya masih usia 14 bulan, sedangkan sang suami bekerja sebagai buruh bangunan dengan pendapatan tidak menentu.

Melanjutkan pendampingan

Mengemban tugas penanganan bencana sejak hari kejadian, Aksi Cepat Tanggap (ACT) hingga saat ini terus mendampingi warga Sulbar untuk kembali bangkit. Masuk sepekan pascagempa, berbagi bantuan hasil sedekah terbaik masyarakat terus berdatangan ke Sulbar. Selain itu, armada kemanusiaan dan pelayanan kesehatan dari Humanity Medical Service juga ACT berikan.

Lukman Solehudin, Koordinator Posko Induk Kemanusiaan ACT di Mamuju mengatakan, penanganan menjelang fase pemulihan dan pemulihan juga sangat penting. Sehingga, ACT terus memasifkan aksi di Sulbar, khususnya pemenuhan pangan dan perencanaan pembangunan hunian bagi warga terdampak gempa.

“Rasa takut, ancaman kelaparan, virus corona, dan rumah yang rusak menjadi permasalahan setelah masa tanggap darurat. Jika kita meninggalkan penyintas, akan menjadi beban besar bagi mereka. Untuk itu, ACT berikhtiar untuk terus mendampingi dan meratakan distribusi agar semua korban bencana bisa merasakan kebaikan sedekah yang masyarakat salurkan melalui ACT,” jelasnya, Senin (25/1/2021).[]