Permulaan 2019, Ribuan Etnis Rohingya Kembali Eksodus

Permulaan 2019, Ribuan Etnis Rohingya Kembali Eksodus

Permulaan 2019, Ribuan Etnis Rohingya Kembali Eksodus' photo

ACTNews, COX'S BAZAR, Bangladesh – Tahun berganti, tetapi nasib Etnis Rohingya masih diterpa krisis dan kemelut. Masih hangat dalam benak kita, bagaimana persekusi, pemerkosaan, pembakaran, pembunuhan atau genosida yang dilakukan militer Myanmar pada etnis Rohingya di tengah tahun 2017 silam. Persekusi itu kemudian menggerakkan eksodus masif Etnis Rohingya keluar dari Myanmar.

Setahun lebih berselang, jutaan Etnis Rohingya di luar Myanmar kini masih hidup dalam ketidakpastian. Mereka, menggantungkan nasib di negeri orang dengan luka yang belum menutup hingga hari ini. Terpaan krisis yang begitu besar ini bahkan sampai membuat Etnis Rohingya dinobatkan menjadi kaum paling teraniaya di dunia oleh PBB. 

Merangkum catatan Badan PBB untuk urusan Pengungsi, sedikitnya 6.700 jiwa tewas meregang nyawa dari periode 25 Agustus hingga 24 September 2017 silam. Dari jumlah tersebut, 730 jiwa merupakan anak-anak berusia di bawah lima tahun. Sementara itu, hampir sejuta jiwa Etnis Rohingya melakukan eksodus besar-besaran, mencari suaka untuk menyelamatkan nyawa dari ancaman militer Myanmar. Wilayah Cox's Bazar, Bangladesh jadi satu lokasi pelarian terbesar hampir sejuta Pengungsi Rohingya.  

Rangkaian perjalanan etnis Rohingya mencari suaka bukanlah perkara yang mudah, banyak kejadian nahas yang menimpa mereka. Tak sedikit dari mereka yang harus terlunta-lunta menahan rasa lapar, haus, dan dingin hingga berhari-hari. Tak sedikit pula dari mereka yang tewas dalam perjalanan.

Mayoritas dari etnis Rohingya diterima di Bangladesh dengan status sebagai penyintas. Diberikan tempat untuk menetap di area tertentu, dengan batasan-batasan yang ditetapkan oleh otoritas Bangladesh. Catatan terbaru dari PBB menyebut, sekitar sembilan ratus ribu jiwa etnis Rohingya terdaftar sebagai pengungsi di Bangladesh. Tapi cerita tentang eksodus ini belum berakhir, permulaan Januari 2019, krisis penghungsi Rohingya yang terombang-ambing nasibnya, masih terus berlanjut. Kali ini, krisis datang dari Pengungsi Rohingya yang berada di India. 

Awal 2019, Ribuan Rohingya eksodus ke Bangladesh dari India

Sejak awal tahun 2019 ini tercatat setidaknya 1.300 etnis Rohingya kembali melakukan eksodus. ACTNews merangkum cerita, para pengungsi Rohingya telah menyebrang ke Bangladesh dari India, di awal tahun 2019. Eksodus ini dipicu karena ketakutan etnis Rohingya yang akan di deportasi ke Myanmar oleh pemerintahan India. Hal ini terjadi ketika nasionalis Hindu menyerukan agar etnis Rohingya dideportasi secara massal. Beberapa waktu lalu, India diketahui memang menjadi salah satu lokasi pelarian ribuan Etnis Rohingya. 

Nayana Bose, juru bicara Kelompok Koordinasi Antar Sektor (ISCG), yang mencakup badan-badan PBB dan organisasi kemanusiaan asing lainnya, mengatakan laju kedatangan baru telah meningkat sejak 3 Januari. "Sekitar 1.300 orang dari 300 keluarga telah tiba dari India ke Bangladesh sampai hari ini," katanya seperti dikutip dari Al Jazeera, Kamis (17/1).

Firas Al-Khateeb, juru bicara PBB untuk urusan pengungsi mengatakan, pihaknya mengetahui situasi eksodus yang dilakukan oleh etnis Rohingya. Pihak otoritas Bangladesh memeriksa mereka yang melintasi perbatasan dalam beberapa pekan terakhir. Ribuan pengungsi Rohingya yang baru saja masuk ke Bangladesh ini rencananya akan di bawa pula menuju Kamp-Kamp Rohingya yang banyak tersebar di wilayah Cox’s Bazar, Bangladesh. 

Cerita tentang etnis paling teraniaya di dunia ini, seperti tidak akan pernah berujung. Lari dari tanah kelahiran mereka di Myanmar, terusir tanpa lagi punya rumah, harta benda, juga pekerjaan. Tak ada yang dapat menjamin bagaimana nasib etnis Rohingya ke depan. Dengan status sebagai penyintas di negeri orang, tidak banyak yang dapat dilakukan oleh mereka. Tinggal di bawah terpal-terpal plastik dengan bambu sebagai tiangnya, dan tikar tipis yang menjadi alasnya adalah keniscayaan yang kini mereka hadapi. Harapan mereka hanya bergantung pada orang-orang dermawan yang peduli pada nasibnya.

Sucita Ramadinda dari Global Humanity Response (GHR) - Aksi Cepat Tanggap (ACT) mengatakan, seiring pergantian tahun 2019, sejumlah program kemanusian ACT untuk Etnis Rohingya terus dilanjutkan. Insya Allah, berbagai bentuk program kemanusiaan yang digagas oleh Aksi Cepat Tanggap akan terus disalurkan untuk ribuan Etnis Rohingya di Bangladesh,

"Meringankan beban hidup mereka yang selama ini terus menggelayuti. ACT mengajak kepada seluruh elemen bangsa Indonesia untuk terus mendoakan serta memberikan bantuan terbaik untuk etnis Rohingya," ujar Suci. []

Sumber gambar: Al Jazeera, AFP, Channelnewsasia

Tag

Belum ada tag sama sekali

Bagikan