
ACTNews, KOTA BEKASI – Langkah kakinya mendadak tertahan
ketika ia melewati sebuah masjid di Perumahan Pondok Cipta, Bintara, Bekasi
Barat. Agak ragu-ragu, Saningkem (40) memberanikan diri untuk menghampiri
masjid yang masih ramai oleh jamaah usai menunaikan salat pada Jumat (7/8) siang
itu.
Ia selalu lewat
masjid yang bernama Subulussalam tersebut usai berjualan sejauh belasan kilometer. Berkeliling
komplek dan kampung untuk menjual getuk dan ketan sudah ia geluti sejak 1996. Saningkem bukan seperti pedagang pada umumnya yang memiliki lapak tetap
di suatu tempat. Sebab itu, ia pun harus keliling Bintara dan menjual dagangannya
seharga Rp5 ribu per porsi demi menjemput rezeki guna memenuhi kebutuhan
hari-hari.
Saat itu
dagangannya habis, ia pun kembali ke rumah. Ada pemandangan tidak biasa yang ia
temui di pelataran masjid ketika ada sebuah rak empat tingkat terpampang tidak
biasa. Rak tersebut berisi sembako berupa beras, minyak goreng, tepung terigu,
kecap, garam, dan beberapa bahan pangan lainnya.
“Ini boleh diambil,
mas?” tanya Bu Saningkem, kepada salah satu pengurus DKM masjid.
Pengurus DKM
pun menimpali, “Boleh Ibu, silakan diambil ya semoga bermanfaat.”
Dengan antusias,
Ibu Saningkem pun mengambil beras untuk dibawa. “Alhamdulillah, saya bawa ya
mas. Dagangan memang lagi sepi banget, apalagi semenjak corona. Perumahan pada
diportal, yang biasa lewat jadi enggak bisa saya lewatin,” tutur Saningkem.
Penampakan Rak Lumbung Sedekah Pangan, di Masjid Subulussalam, Perumahan Pondok Cipta, Bintara, Bekasi Barat. (ACTNews/Fhirlian Rizqi)
Saningkem juga
merasakan bahwa sekarang dagangan yang ia bawa lebih lama laris dibanding
sebelumnya. “Sekarang paling besar Rp300 ribu mas. Itu belum termasuk dipotong
buat modal bahan-bahan. Kalau normal, jam 10 sudah habis, tapi sampai jam
segini (sekitar pukul 1 siang) masih sisa. Semenjak corona jalanan diportal
mas, sekarang aja ini sisa satu jalan raya. Selain keliling, saya jualan di
trotoar pinggir jalan saja,” ungkapnya.
Meski begitu,
ia mengaku tetap bersyukur berapa pun yang didapat hasil dari jualannya, selama
yang ia dapat adalah halal dan serta berkah. “Dinikmatin saja mas, sama
keluarga, satu anak dan suami sekarang ini sopir,” pungkasnya.
Saningkem jadi
salah satu warga yang mendapat manfaat dari Lumbung Sedekah Pangan yang
diinisiasi oleh Aksi Cepat Tanggap (ACT), di tujuh masjid di Kota dan Kabupaten
Bekasi. Untuk saat ini, terdapat tujuh lokasi yang menjadi simpul gerakan
sedekah ini guna mewadahi mereka yang ingin bersedekah bahan pangan dan
mewadahi mereka yang membutuhkan pangan untuk mengambil seperlunya.
“Beberapa waktu lalu kami menginisiasi Gerakan Nasional Lumbung Sedekah Pangan, dengan tujuan mengajak sebanyak-banyaknya individu maupun komunitas untuk membuka Lumbung Sedekah Pangan di lingkungan mereka. Semoga masyarakat yang membutuhkan dapat terbantu tanpa harus bercerita dia sedang kesulitan, serta mereka yang berlebih tidak bingung untuk bersedekah tanpa ada yang tahu,” ujar Ishaq. []