Perpanjangan Rezeki Saningkem di Lumbung Sedekah Pangan

Saningkem (40), penjual getuk ketan di Kota Bekasi, sangat senang ketika mengambil bahan pokok dari Lumbung Sedekah Pangan. Ia mengaku membutuhkannya mengingat semenjak pandemi menyebar, pendapatannya menurun karena dagangannya sulit laku.

Saningkem (40), penjual getuk mengaku terdampak pandemi. Akibat pembatasan sosial, ia kesulitan mengakses jalan perumahan yang biasa ia lewati untuk berjualan. (ACTNews/Fhirlian Rizqi)

ACTNews, KOTA BEKASI Langkah kakinya mendadak tertahan ketika ia melewati sebuah masjid di Perumahan Pondok Cipta, Bintara, Bekasi Barat. Agak ragu-ragu, Saningkem (40) memberanikan diri untuk menghampiri masjid yang masih ramai oleh jamaah usai menunaikan salat pada Jumat (7/8) siang itu.

Ia selalu lewat masjid yang bernama Subulussalam tersebut usai berjualan sejauh belasan kilometer. Berkeliling komplek dan kampung untuk menjual getuk dan ketan sudah ia geluti sejak  1996. Saningkem bukan seperti pedagang pada umumnya yang memiliki lapak tetap di suatu tempat. Sebab itu, ia pun harus keliling Bintara dan menjual dagangannya seharga Rp5 ribu per porsi demi menjemput rezeki guna memenuhi kebutuhan hari-hari.

Saat itu dagangannya habis, ia pun kembali ke rumah. Ada pemandangan tidak biasa yang ia temui di pelataran masjid ketika ada sebuah rak empat tingkat terpampang tidak biasa. Rak tersebut berisi sembako berupa beras, minyak goreng, tepung terigu, kecap, garam, dan beberapa bahan pangan lainnya.

“Ini boleh diambil, mas?” tanya Bu Saningkem, kepada salah satu pengurus DKM masjid.

Pengurus DKM pun menimpali, “Boleh Ibu, silakan diambil ya semoga bermanfaat.”

Dengan antusias, Ibu Saningkem pun mengambil beras untuk dibawa. “Alhamdulillah, saya bawa ya mas. Dagangan memang lagi sepi banget, apalagi semenjak corona. Perumahan pada diportal, yang biasa lewat jadi enggak bisa saya lewatin,” tutur Saningkem.


Penampakan Rak Lumbung Sedekah Pangan, di Masjid Subulussalam, Perumahan Pondok Cipta, Bintara, Bekasi Barat. (ACTNews/Fhirlian Rizqi)

Saningkem juga merasakan bahwa sekarang dagangan yang ia bawa lebih lama laris dibanding sebelumnya. “Sekarang paling besar Rp300 ribu mas. Itu belum termasuk dipotong buat modal bahan-bahan. Kalau normal, jam 10 sudah habis, tapi sampai jam segini (sekitar pukul 1 siang) masih sisa. Semenjak corona jalanan diportal mas, sekarang aja ini sisa satu jalan raya. Selain keliling, saya jualan di trotoar pinggir jalan saja,” ungkapnya.

Meski begitu, ia mengaku tetap bersyukur berapa pun yang didapat hasil dari jualannya, selama yang ia dapat adalah halal dan serta berkah. “Dinikmatin saja mas, sama keluarga, satu anak dan suami sekarang ini sopir,” pungkasnya.

Saningkem jadi salah satu warga yang mendapat manfaat dari Lumbung Sedekah Pangan yang diinisiasi oleh Aksi Cepat Tanggap (ACT), di tujuh masjid di Kota dan Kabupaten Bekasi. Untuk saat ini, terdapat tujuh lokasi yang menjadi simpul gerakan sedekah ini guna mewadahi mereka yang ingin bersedekah bahan pangan dan mewadahi mereka yang membutuhkan pangan untuk mengambil seperlunya.


Kepala Cabang ACT Bekasi Ishaq Maulana berharap ke depannya, Lumbung Sedekah Pangan dapat diinisiasi oleh warga Bekasi sendiri mulai dari lingkungan rumahnya. Sehingga manfaatnya akan semakin luas tersebar seiring dengan bertambahnya lokasi-lokasi Lumbung Sedekah Pangan di Bekasi.

“Beberapa waktu lalu kami menginisiasi Gerakan Nasional Lumbung Sedekah Pangan, dengan tujuan mengajak sebanyak-banyaknya individu maupun komunitas untuk membuka Lumbung Sedekah Pangan di lingkungan mereka. Semoga masyarakat yang membutuhkan dapat terbantu tanpa harus bercerita dia sedang kesulitan, serta mereka yang berlebih tidak bingung untuk bersedekah tanpa ada yang tahu,” ujar Ishaq. []