Pesantren Cahaya Al-Anshor jadi Tempat Tunanetra Menghapus Stigma

Pesantren Tunanetra, Yatim dan Dhuafa Cahaya Al-Anshor menjadi harapan santri tunanetra agar dapat mengubah stigma masyarakat terhadap penyandang disabilitas. Selama di pesantren, santri mendapat pelatihan keterampilan dan pengetahuan agama serta umum.

santri tunanetra
Santri tunanetra sedang membuat keset dari kain bekas di Pojok Kreatif Pesantren Cahaya Al-Anshor. (ACTNews)

ACTNews, BOGOR – Halaman kompleks Pesantren Tunanetra, Yatim dan Dhuafa Cahaya Al-Anshor di Desa Pasir Mukti, Kecamatan Citeureup, Bogor, pada Kamis (14/4/2022) siang, sepi dari aktivitas santri. Gedung sekolah dua lantai berwarna hijau pun tutup.

“Kalau siang begini (santri) pada beraktivitas di ruang Pojok Kreatif,” kata Pengasuh Pesantren Ustaz Dedi Supriadi saat ditanya ACTNews, Kamis (14/4/2022).

Benar saja, kontras dengan suasana halaman pesantren, di ruang Pojok Kreatif cukup ramai. Sebanyak delapan santri yang merupakan tunanetra dan ODGJ didampingi pelatih tengah sibuk menggunting, menyambung dan menganyam kain bekas menjadi keset. Mereka tampak serius dan sibuk dengan tugas masing-masing.

Salah satu santri tunanetra yang sedang menganyam Boni Iskandar meraba paku yang tertancap di cetakan kayu berbentuk persegi panjang berukuran 60 x 30 cm. Bagi Boni, paku-paku tersebut sebagai tanda dan tempat memasukkan kain selama proses membuat keset.

“Jadi disakut kainnya di paku, jangan sampai ada yang kelewat. Kalau kelewat nanti berantakan dan enggak bagus,” kata Boni. 

Kegiatan menganyam di pesantren sudah Boni lakukan selama dua bulan. Sebelumnya, Boni hanya di rumah, membantu keluarga membuat kandang ayam dari bambu. Namun kondisi fisik sebagai tunanetra membuatnya dipandang sebelah mata, baik oleh keluarga juga lingkungan di sekitarnya.