Pesantren dan SLB Cahaya Qur’an Tempat Tunanetra Menghafal Al-Qur’an

Pesantren Tunanetra dan SLB Cahaya Qur’an adalah tempat bagi penyandang tunanetra menghafal Al-Qur’an dan mendapat pendidikan. Namun, karena keterbatasan kas, santri sering kali makan tanpa lauk atau dengan mi instan saja.

pesantren tunanetra
Santri Pesantren Tunanetra dan SLB Cahaya Qur’an saat sedang muraja’ah Al-Qur’an. (ACTNews)

ACTNews, BOGOR – Penyandang tunanetra masih kesulitan mendapatkan akses pendidikan formal. Keberadaan Sekolah Luar Biasa (SLB) pun masih sangat sulit di beberapa daerah, jika pun ada lokasinya cukup jauh.

Melihat kondisi tersebut, tahun 2013, Firman, warga Desa Benteng, Ciampea, Kabupaten Bogor, mendirikan Pesantren Tunanetra dan SLB Cahaya Qur’an di kampungnya. Pesantren dan SLB dibuat berdampingan agar memudahkan tunanetra menuju sekolah.

Bukan tanpa alasan Firman mendirikan pesantren dan SLB ini. Sebelumnya, ia melihat anak-anak tunanetra harus menuju SLB yang lokasinya cukup jauh dari rumah. Tentu ini menyulitkan mereka yang tidak mampu melihat secara sempurna. 

"Berangkat dari keprihatinan dan ketidakmampuan ekonomi anak-anak tunanetra, diputuskan SLB harus berdampingan dengan asrama. Dengan konsep sekolah dan asrama, penghuni tunanetra tidak perlu repot pulang-pergi setiap hari. Jadi, di tempat ini selain bersekolah, mereka juga bisa bermain bersama, belajar dan menghafal Qur’an," jelas Firman, Jumat (8/4/2022) lalu. 

Dengan lokasi yang berdampingan, menurut Firman, anak-anak tunanetra lebih mudah menuju sekolah, juga tidak perlu mengeluarkan biaya. Apalagi banyak penyandang tunanetra berasal dari keluarga kurang mampu secara ekonomi.

"Semua anak tunanetra yang tinggal di pesantren dan sekolah di SLB Cahaya Qur’an gratis. Semuanya berasal dari keluarga kurang mampu, yatim, dan dhuafa," tambah Firman. 


Bangunan Pesantren Tunanetra dan SLB Cahaya Qur'an. (ACTNews)

Enam tahun beroperasi, kini Pesantren Tunanetra dan SLB Cahaya Qur’an tidak hanya menampung anak-anak tunanetra, tetapi juga anak-anak dengan gangguan down syndrome, autisme, dan keterbelakangan mental. "Biaya operasional sekolah dari donatur dan swadaya masyarakat," ungkap Firman.

Salah seorang santri yang juga pengajar di Pesantren dan SLB Cahaya Qur’an Ade Suryani mengatakan, saat ini Pesantren dan SLB Cahaya Qur’an kekurangan buku tajwid braille dan alat-alat untuk kegiatan ekstrakurikuler marawis. Selain itu, SLB juga butuh komputer khusus tunanetra untuk mendukung kegiatan TIK.

"Karena alat-alatnya belum ada, jadi kegiatan ekstrakurikuler ditunda dulu, sampai alat-alatnya ada," kata Ade yang juga sebagai penyandang tunanetra.[]