Pesantren SPMAA Dorong Kualitas Pertanian dengan Sistem Organik

Melalui sistem tanam organik yang dimulai sejak 7 tahun lalu, Pondok Pesantren Sumber Pembinaan Mental Agama Allah (SPMAA) terus berharap tak hanya mengebut jumlah hasil, tapi juga kualitasnya hasil tani yang lebih sehat.

Tanaman kelengkeng dan kurma yang tengah dikembangkan santri SPMAA.
Minan selaku pengurus Santani SPMAA sedang memeriksa tanaman kelengkeng milik pondok. (ACTNews/Reza Mardhani)

ACTNews, PASURUAN – Sebelum hadirnya program Santri Taruna Tani (Santani), Pondok Pesantren Sumber Pembinaan Mental Agama Allah (SPMAA) memulai program pemberdayaannya sendiri 7 tahun lalu. Santri diwajibkan memilih salah satu dari tiga fokus bidang yang mereka kehendaki, yakni sosial, pendidikan, dan lingkungan. Di bidang lingkungan inilah urgensi ketahanan pangan ditanamkan kepada para santri.

Hasilnya para santri kini membiasakan sistem pertanian organik. Dari lubang biopori dan tong-tong fermentasi di pondok, para santri bisa menghasilkan sendiri pestisida, pupuk, dan nutrisi organik untuk lahan mereka serta para petani sekitarnya. Bahkan para santri juga sering memberikan edukasi kepada para petani bagaimana cara memproduksi nutrisi maupun pestisida sendiri.

“Kita itu membantu para petani bagaimana dalam pola pertanian itu bagus dan tidak menggenjot hasilnya. Hasilnya dituntut, lingkungan dan kesehatan yang mengonsumsi juga dituntut,” kata Minan Afif Maruf selaku Pengurus Santani SPMAA Pasuran pada Senin (25/1/2021).


Pohon kurma yang sedang dikembangkan di SPMAA Pasuruan. (ACTNews/Reza Mardhani)

Secara umum, program pertanian ini berjalan di sejumlah lahan di antara 70 cabang SPMAA seluruh Indonesia, termasuk salah satunya di Dusun Kajang, Kecamatan Gempol, Pasuruan, Jawa Timur. Di SPMAA cabang Pasuruan inilah terdapat lahan padi seluas 6.000 meter persegi yang mampu panen 6-7 ton, serta lahan yang ditanami 50 pohon kelengkeng yang mana produksi buah maupun bibitnya diberikan ke masyarakat sekitar.

“Insyaallah dari Santani SPMAA Pasuruan bisa membantu pengelolaan, penanaman, perawatan dan juga pembuahan pohon kelengkengnya. Sudah sekitar 6-7 tahun yang lalu masyarakat kita bagikan. Satu rumah kita kasih satu bibit kelengkeng, kita suruh tanam. Ketika bibitnya mati, kita ganti. Pokoknya sampai hidup berbuah dan dinikmati masyarakat,” ujar Minan.

Ketika memutuskan untuk belajar pertanian dari nol di SPMAA beberapa tahun lalu, Minan didorong oleh niat besar untuk memajukan pertanian. Padahal dahulunya ia sama sekali tidak berniat bahkan tidak mau untuk terjun di dunia tani.


“Dari Gus Hafit (salah satu pengasuh SPMAA) melalui pendidikannya dan sebagainya, akhirnya saya tertarik. Bagaimana ke depannya kami dari santri mempertahankan negeri ini karena negeri agraris. Jangan sampai pertanian ini mati,” tutur Minan.

Sekitar satu tahun ke belakang, SPMAA pun mendukung program Santani dari Yayasan Penguatan Peran Pesantren Indonesia (YP3I) yang kini juga didorong oleh Global Wakaf – ACT karena kesamaan tujuan. Pola pertanian organik itu juga yang mereka aplikasikan di program Santani.

“Dengan kita mengikuti program Santani, artinya kita mendukung program ini. Kita sebagai Santani bagaimana caranya untuk bisa mempertahankan pangan. Kita tetap kembali ke program awal untuk kembali ke organik. Bagaimana nanti kita mendampingi para petani untuk tidak banyak menggunakan pestisida dan pupuk kimia. Kita kembali ke alam, dan dengan begitu hidup kita akan sehat,” jelas Minan. []