Petani Binaan Global Wakaf di Bogor Mulai Tuai Hasil Panen

Setelah menunggu beberapa bulan, para petani binaan program Masyarakat Produsen Pangan Indonesia (MPPI) akhirnya di masa panen pada awal Agustus lalu. Di musim kemarau ini, pendampingan dari Global Wakaf - ACT itu akan terus berlanjut.

Salah seorang petani Desa Cibadak sedang bekerja di lahannya. (ACTNews)

ACTNews, BOGOR – Tanam raya yang dilakukan para petani pada pertengahan Mei lalu di Desa Cibadak, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Bogor, akhirnya membuahkan hasil. Sebanyak 48 petani binaan program Masyarakat Produsen Pangan Indonesia (MPPI) dari Global Wakaf – ACT, akhirnya panen pada awal Agustus lalu.

Salah satu petani tersebut adalah Engkus. Di tanah 0,3 hektare ia menanam padi 2 kali dalam setahun. Sebelumnya setiap kali akan menanam, ia membutuhkan pinjaman dari pemilik modal dan digantikan dengan sejumlah gabah ketika panen. Sehingga, hasil panen sisanya hanya cukup disimpan untuk makan keluarganya. Istrinya pun sampai kini masih terjerat sistem pinjaman bank emok (rentenir).

Engkus dan keluarganya mengaku dapat merasakan hasil yang lebih baik sekarang. Selain disimpan untuk makan sehari-hari, hasil panennya ini bisa disimpan di Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) dan dijual kepada mitra Gapoktan. "Alhamdulillah setelah dibina jadi lebih baik hasil panen kami, terima kasih Global Wakaf – ACT," ujar Engkus pada Kamis (27/8) lalu.

Di Desa Cibadak, hampir seluruh masyarakat nya berprofesi sebagai petani. Baik yang memiliki sawah sendiri, menggarap sawah orang lain, ataupun menjadi buruh tani. Hanya sebagian kecil yang berdagang atau memiliki pekerjaan lain. Dan mayoritas warga masih ada dalam kondisi prasejahtera. Demikian menurut Khisnul Hassanah dari Tim Program Global Wakaf - ACT Bogor.


Hasil panen para petani binaan MPPI. (ACTNews)

“Namun, kesejahteraan masyarakat di desa ini kategori menengah ke bawah. Banyak dari petani yang kondisinya sama saja selama berpuluh-puluh tahun, mereka tetap memerlukan pinjaman ketika akan mulai menanam padi dan para ibunya terbiasa dengan bank emok yang tiap pekannya menagih piutangnya,” ungkap Khisnul.

Selain tantangan dalam bentuk modal, para petani juga kerap terkendala cuaca. Seperti kondisi saat ini di mana kekeringan mulai melanda tanah mereka. Sungai-sungai mulai mengering dan para petani kesusahan untuk mengairi sawah-sawahnya. Untuk menyiasati ini, para petani mengalihkan tanamannya menjadi tanamannya lain.

“Karena menanam padi tidak memungkinkan, sehingga saat ini para petani menanam palawija yang tidak terlalu membutuhkan air yang banyak seperti kacang hijau, kacang panjang, dan semangka. Para petani memprediksi bisa mulai menggarap sawahnya lagi untuk menanam padi mulai bulan Oktober atau November nanti. Semoga musim kering ini tidak berkepanjangan, dan prediksi mereka tepat,” jelas Khisnul.


Global Wakaf – ACT kembali membersamai para petani dalam masa-masa kering ini. Pendampingan dari program MPPI kembali diberikan untuk memastikan para petani mendapatkan hasil panen yang maksimal nantinya. Khisnul berharap, para dermawan dapat ikut menunjukkan kepeduliannya untuk para petani, bersama Global Wakaf – ACT.

“Kami akan kembali memberikan pendampingan untuk 48 petani di Desa Cibadak dengan harapan para petani ini dapat kembali memperoleh panen yang maksimal nantinya. Untuk itu kami juga mengharapkan dukungan dari para dermawan dalam program MPPI ini. Bantuan terbaik untuk para petani dapat disalurkan melalui laman Indonesia Dermawan atau dapat transfer langsung melalui BNI Syariah 6600000460 atas nama Yayasan Global Wakaf,“ ajak Khisnul.

Selain dari MPPI, Global Wakaf – ACT juga memiliki program penyaluran modal bagi para petani melalui Wakaf Modal Usaha Mikro. Program ini bertujuan untuk membebaskan pelaku usaha mikro dari jeratan utang dan riba. Pelaku usaha mikro meliputi produsen pangan di hulu maupun pedagang kecil di hilir, agar proses produksi serta transaksi jual-beli lebih berkah. Dengan dasar sistem Qadhr al-Hasan, Wakaf Modal Usaha Mikro memiliki peran dalam membangun komitmen para pelaku usaha penerima modal, sehingga para penerima manfaat senantiasa bertekad dalam membangun bisnisnya untuk lebih maju dan berkembang.  []