Petani di Desa Cabean: Sudah Jatuh Tertimpa Tangga

Sudah jatuh tertimpa tangga. Hal itu lah yang sekiranya menggambarkan kondisi para petani Desa Cabean. Setelah mengalami serangan hama, mereka pun harus merasakan harga pupuk tinggi, hasil panen sedikit, dan kini harga gabah yang juga menurun.

Subali dan keluarga saat sedang memanen padi, Rabu (17/3/2021)
Subali dan keluarga saat sedang memanen padi, Rabu (17/3/2021). Harga gabah di Desa Cabean kini menurun saat panen raya. (ACTNews)

ACTNews, BLORA — Musim panen raya di Desa Cabean, Cepu, Blora tiba. Namun, banyak petani tak begitu antusias. Banyak keluhan terlontar, mulai dari hasil panen yang rendah, serangan hama, hingga harga pupuk yang tinggi.

Mayoritas warga Desa Cabean adalah petani. Sehingga wajar jika mereka mengeluh, karena hasil tani adalah satu-satunya mata pencaharian untuk memenuhi kebutuhan. 

Salah satu petani Desa Cabean yang merasakan hasil panen tidak maksimal adalah Subali (39). Panen kali ini Subali hanya mendapat 1,2 ton gabah. Padahal, biasanya Subali bisa mendapat tiga ton gabah. “Saya tetap bersyukur mas. Saat ini, hasil panen sebagian petani hanya setengah dari biasanya ada juga yang tidak. Insyaallah, hasil panen kali ini  cukup untuk persiapan Ramadan,” cerita Subali, Rabu (17/3/2021). 

Sudah jatuh tertimpa tangga. Hal itu lah yang sekiranya menggambarkan kondisi para petani Desa Cabean. Setelah mengalami serangan hama, mereka pun harus merasakan harga pupuk tinggi, hasil panen sedikit, dan kini harga gabah yang juga menurun dari Rp 4 ribu ke Rp 3 ribu.

Rasa syukur Subali pun bertambah setelah hasil panennya dibeli Global Wakaf-ACT melalui program Wakaf Sawah Produktif, dengan harga yang lebih tinggi dari tengkulak. “Alhamdulillah hasil panen saya bisa dihargai lebih tinggi. Mudah-mudahan ini dapat membantu ekonomi saya dalam menyambut Ramadan,” kata Subali, bahagia.[]